wpid-IMG00121-20131213-0529.jpg

Berikut adalah wawancara oleh mahasiswa bernama Ririn kepada penulis mengenai Buku Pantang Padam: Catatan Skolioser. Tulisan wawancara bersumber dari blog Ririn di sini.

^^^^^^^^^^^^^^

Sebagian dari kita mungkin masih ada yang asing dengan kata-kata ‘skoliosis’. Tetapi sebenarnya, ini adalah hal yang penting dan harus diketahui oleh setiap orang. Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang membentuk huruf S atau C. Jadi, skoliosis bukanlah suatu penyakit melainkan kelainan. Dari beberapa kasus yang terjadi, kebanyakan skoliosis menimpa lebih banyak perempuan daripada laki-laki.

Skoliosis dilihat dari kasusnya dapat dibedakan menjadi tiga, peratama yaitu, skoliosis derajat ringan atau kecil. Pada skoliosis ini, derajat kelengkungan pada tulang belakang masih bersifat ringan sehingga skolioser (orang dengan skoliosis) disarankan untuk terapi dan melakukan olahraga renang saja. Kedua yaitu, skoliois derajat sedang, pada kasus ini skolioser bisa disarankan untuk mengenakanbrace atau semacam alat dari bahan seperti gips pada tubuhnya. Dan yang ketiga, skoliosis derajat berat yaitu, derajat skoliosis sudah besar dan khawatir akan mengganggu organ tubuh lain sehingga disarkankan untuk melakukan tindakan operasi.

Penyebab skoliosis bisa bermacam-macam. Ada yang karena bawaan sejak lahir, jatuh, atau juga tidak diketahui penyebabnya yang biasanya disebut idiopathic scoliosis. Tetapi mungkin seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan penelitian, bisa jadi yang tidak diketahui penyebabnya ini dapat diketahui nantinya.

Yulia Endah Susanti atau biasa dipanggil Yulia, adalah seorang skolioser. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mewawancarai beliau. “Kalau tidak salah ingat kira-kira usia 15 tahun, pas SMA. Tapi waktu itu nggak ngeh harus terapi atau bagaimana karena memang tidak ada keluhan saat itu. Jadi lihatnya dari rontgen paru karena waktu itu sempat ada flek paru. Tapi dokter paru-paru nggak komentar apa-apa tentang skoliosis jadi ya dikira nggak kenapa-kenapa gitu.” Katanya saat ditanya kapan dia mulai mengetahui bahawa dia memiliki skoliosis. Yulia mempunyai skoliosis yang termasuk dalam skoliosis derajat sedang.

Pada kasus skoliosis derajat sedang ini, dia diharuskan untuk menggunakan brace. Pada awalnya, dia mengatakan bahwa dia merasa khawatir tidak bisa melakukan banyak hal karena skoliosis dan penggunaan brace ini, apalagi Yulia cukup aktif dalam beberapa komunitas dan beberapa kegiatan. Dia khawatir semuanya akan menjadi serba terbatas. Namun, karena mendapat dukungan dari orang-orang disekitarnya dan juga melihat dari sudut pandang yang berbeda, dia mersa bahwa keterbatasan itu bukan suatu hal yang buruk. “Dan ternyata saya masih bisa melakukan berbagai kegiatan dengan brace juga. Traveling, kemping, naik sepeda, jadi relawan, bahkan nanjak ke Cibereum juga saya pakai brace hehe.”

Saat ini Yulia telah membuat buku indie alias self publishing yang berjudul ‘Pantang Padam: catatan skolioser’. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan di blog nya. Pada awalnya, Yulia menulis di blog nya untuk berbagi informasi mengenai skoliosis dan brace yang dia kenakan. Dalam blog nya, Yulia juga berbagi cerita mengenai MVP (Mitral Valve Prolapse) yaitu kelainan pada katup jantung. Dia mengatakan bahwa infromasi tentang MVP masih sulit sekali didapat dan simpang siur. Awalnya, dia juga merasa bahwa mencari informasi tentang skoliosis sangat sulit. Karena merasa ingin berbagi informasi yang telah dia dapat, akhirnya dia mulai menulis tentang skoliosis di blog nya, lalu dibagikan kepada beberapa teman, sampai akhirnya bisa bertemu dengan skolioser lain di blog dan twitter, dan berkenalan dengan kawan-kawan skolioser yang berada di dalam dan luar kota.

Semakin lama, Yulia merasa bahwa berbagi lewat blog saja belum cukup, karena ternyata dia melihat bahwa banyak skolioser yang masih merasa sendiri, minder, dan merasa sedih karena memiliki skoliosis. Oleh karena itu, Yulia berpikir untuk membuat buku dengan maksud berbagi semangat dan berbagi pengalaman dengan orang-orang diluar sana. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat bukuindie atau self publishing, dengan tim yang merupakan teman-temannya sendiri, yaitu editor, ilustrator, yang membuat desain cover, dan yang menjadi proof reader. Yulia mengatakan bahwa setiap skolioser itu unik. Setiap orang tidak sama perlakuannya, seperti ada yang masih boleh lari, ada juga yang tidak boleh lari. Tapi setiap skolioser memang tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan yang terlalu berat untuk satu sisi saja. Namun dalam kegiatan lain, selama itu tidak berdampak buruk untuk tulang lakukan saja, yang penting tetap melakukan konsultasi dulu dengan dokter. “Dan kalo misalnya nggak boleh lari ya nggak usah sedih juga, kan masih ada olahraga yang lain. Renang misalnya.” Begitu katanya, karena renang merupakan salah satu olahraga yang diperbolehkan bagi skolioser.

Buku ‘Pantang Padam: catatan skolioser’ telah memiliki pembacanya, Yulia juga sangat bersyukur atas respon yang diberikan pembacanya, “Alhamdulillah, respon pembaca baik. Saya juga terharu dan nggak nyangka sih.” Awalnya Yulia berniat untuk mencetak buku 30 eksemplar saja, namun akhirnya dia mencetak 150 eksemplar, dan akan dicetak ulang lagi karena permintaan yang bertambah. Dalam bukunya, Yulia menuliskan ciri-ciri dan deteksi dini untuk skoliosis. Misalnya, gelang bahu kiri dan kanan sama atau tidak, lalu bisa juga dengan posisikan tubuh pada gerakan ruku, dan minta orang didekat kita untuk meraba permukaan punggung apakah ada yang menonjol atau tidak. Dan yang lebih meyakinkan lagi saat cek up kesehatan, coba rontgen paru, disitu akan terlihat apakah tulang punggung bengkok atau tidak.

“Nah, kalau memang positif skoliosis jangan panik.  Tenang, diskusikan sama orangtua baiknya ke dokter mana, lalu mulailah kontrol ke dokter selama beberapa bulan sekali. Memang lebih baik ditangani sejak dini.” Katanya meyakinkan. Yulia ingin berbagi semangat dalam buku ‘Pantang Padam: catatan skolioser’ ini, untuk yang skolioser maupun tidak. Dia mengatakan bahwa skolioser tetap bisa berkarya, berkegiatan, berteman dengan banyak orang, dan meyakinkan setiap orang untuk sama-sama tidak mengeluh. “Bersyukur bahwa skoliosis ini juga pastinya ada maknanya untuk kita. Dan untuk non skolioser, saya harap buku ini bisa menimbulkan semacam kewaspadaan. Karena nantinya insya Allah kita akan jadi orangtua, maka kita harus tahu skoliosis itu apa supaya bisa menambah wawasan untuk anak kita nantinya. Atau mungkin juga berguna sekarang karena punya adik, kakak, sepupu, keponakan, teman dan sebagainya.” jelasnya menambahkan.

Jangan sampai kekurangan menjadi pembatas kita dengan banyak hal yang bisa kita lakukan, jadikan itu suatu kelebihan, dan berusahalah untuk selalu mengambil hikmah dari apa yang terjadi, karena kita tidak sendiri. Jika ingin berkunjung ke blog Yulia, silakan  di http://rumahijaubelokiri.wordpress.com. Yulia juga masih mengembangkan blog lain yang terkait dengan buku ‘Pantang Padam: catatan skolioser.’ “Semoga ini bermanfaat, agar setiap orang sadar skoliosis.” Begitu harapannya saat mengakhiri wawancara.