wpid-2014-03-30-10.33.31.jpg.jpeg

Bisakah seorang skolioser (khususnya dengan brace) melakukan kegiatan di luar ruangan atau outdoor activity? Jawabnya bisa saja. Skolioser tetap dapat melakukan berbagai kegiatan termasuk juga di alam bebas, tentunya dengan memerhatikan beberapa hal agar kegiatan tersebut berjalan lancar.

Berikut sedikit sharing pengalaman untuk skolioser yang mau melakukan kegiatan di luar-ruang atau outdoor activity yang dalam hal ini yaitu kemping alias berkemah, dengan atau tanpa brace.

image

 

Mari kemping!

Poin yang harus diperhatikan adalah:

  1. Packing.

Buat daftar barang-barang yang akan dibawa untuk memudahkan packing beberapa hari sebelum hari H. Siapkan barang-barang yang akan dibawa tersebut dan usahakan melakukan packing tidak mepet menjelang keberangkatan (apalagi di menit terakhir) untuk menghindari ada barang yang tertinggal.

image

Check list barang yang akan dibawa misalnya:

1. Baju-ganti 3 potong (disesuaikan dengan lama kegiatan)

2. Sleeping bag

3. Jaket

4. Obat pribadi

5. Dst.

Dua hal penting dalam packing yaitu:

  • Hindari membawa barang-barang yang tidak perlu (misalnya boneka, atau kompor milik ibumu). Utamakan kebutuhan daripada keinginan. Misalnya jika kamu tidak tahan dingin maka tentu utamakan membawa jaket daripada memenuhi tas dengan kamera. wpid-2014-03-30-10.33.31.jpg.jpeg
  • Kenali lokasi kegiatan lebih dulu dengan bertanya pada kawan atau ketua rombongan yang sudah mengenal area yang menjadi tujuan. Sehingga kamu bisa mengetahui lebih jauh mengenai seluk beluk tempat yang akan dikunjungi tersebut. Misalnya lokasi kegiatan sangat minim penerangan sehingga membawa senter adalah sebuah kewajiban, atau misalnya lokasi sangat licin sehingga tidak boleh pakai sendal jepit. Usahakan juga untuk mencari tahu suhu udara di lokasi kegiatan, apakah masuk dalam daerah yang sangat dingin hingga membutuhkan jaket polar yang notabene lebih hangat atau hanya butuh jaket biasa?

2. Jangan malu untuk bilang yang sebenarnya mengenai kondisimu (sebagai skolioser, mengenakan brace, dan sebagainya) sebelum hari H pada teman terdekat atau yang bertanggung jawab sebagai pemimpin rombongan atau pengawas kegiatan.

Hal ini penting agar selama kegiatan berlangsung ada yang mengetahui situasi dan kondisimu sehingga mengetahui batasan diri dan sebagai antisipasi saja.

Setidaknya tiga hari sebelum kemping saya mengirimkan pesan ke beberapa teman terdekat perihal meminta bantuan untuk memasangkan brace. Saat itu tidak ada satupun kawan yang meledek saya dan semuanya menyahut dengan senang hati akan membantu asalkan diberitahu cara memasangkan brace.

Berkata jujur mengenai kondisi diri juga berguna untuk membantu dalam hal packing tadi. Jika tasmu sudah terlampau berat dan sudah tidak memungkinkan membawa barang lagi di tas sendiri sementara masih ada barang-barang sangat penting yang belum terbawa coba tanyakanlah apa ada teman yang mau berbagi muatan. Mungkin kamu dan temanmu bisa bertukar beban yang lebih ringan. 

Ingat: jangan takut diledek hanya karena kamu skoliosis atau mengenakan brace. Traveling is about sharing. A good travel mate will help you!

3. Pilih pakaian yang benar-benar menyerap agar memudahkan pergerakan, tidak membuat cepat kepanasan serta tidak berat dipakai selama berkegiatan ataupun ketika disimpan dalam daypack.

Celana jeans selain berat ketika dalam kondisi basah atau terkena air juga berarti lebih berat ketika disimpan di dalam tas. Pada suatu kesempatan saya diledek karena seluruh pakaian dari atas sampai bawah benar-benar seperti disponsori oleh toko outdoor! Katanya “Yulia bener-bener kaya orang lapangan. Lebih lapangan dari kita semua.”

Bukan maksudnya seperti itu sih haha. Tapi supaya brace tak membuat suasana kegiatan jadi tak nyaman jadi saya sendiri harus benar-benar bisa memilih pakaian dengan bahan yang tak panas dan tak berat dibawa. Lagipula baju dan celana outdoor yang saya gunakan hari itu pun hadiah :p. Kalaupun belum punya pakaian dengan bahan khusus untuk outdoor atau celana berbahan quick dry, pilih saja pakaian dan celana dengan bahan yang berbahan katun atau tidak tebal sehingga tidak terlalu berat di dalam tas.

Ingin punya pakaian outdoor tapi belum ada uang? Hayuk, menabung! Selain mendapat dari hadiah, rata-rata saya juga harus menabung dulu kok untuk bisa membelinya.

4. Jangan ragu untuk tidak mengikuti salah satu acara jika memang kondisimu tidak memungkinkan.

Belakangan saya ketahui dari Novi, salah satu skolioser juga, bahwa flying fox pada outbond bagi skolioser yang memakai brace itu tidak diperbolehkan oleh pihak outbond. Karena harness hanya akan melingkupi di brace dan bukannya pinggang si pemakai. Dan ini tentu berlaku juga pada kegiatan ekstrim lain yang membutuhkan penggunaan harness seperti misalnya pada wall climbing atau rock climbing.

Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Tak bisa ikut satu kegiatan tak masalah kok. That’s ok.

5. Be your self!

Bagi skolioser yang disarankan memakai brace dan memang membawa manfaat bagi tulang belakangnya namun menghadapi kendala tak siap mental, malu, dan sebagainya sehingga malah membatasi diri dari teman-teman atau malah mundur dari semua kegiatan karena minder, coba ingat kata-kata Lintang dari novel Maryamah Karpov ini:

“Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan merubah cara pandang.”

“Merubah cara pandang.” Inilah kata-kata yang terus terngiang setiap saya naik bus yang luar biasa padat di masa-masa awal pemakaian brace. Sulitnya menembus perjalanan dengan situasi arus lalu lintas parah dan menaiki transportasi yang sangat padat dengan brace setiap harinya membuat saya kemudian berpikir bahwa,

Brace dianggap sebagai masalah dan kesulitan karena brace dipandang sebagai sebuah masalah. Jika brace dianggap sebagai sebuah kebutuhan, maka brace tak ubahnya seperti udara yang kita butuhkan untuk dihirup setiap detik. Ketika brace dipandang seperti itu, maka kita tetap bisa bernafas lega meskipun dengan brace melekat di tubuh.

“Brace is a problem if we consider brace as a problem and trouble so that the world becomes horrible. Brace is a best friend if we consider brace as an air for breathing. And through it, we still can take a deep breath even when it stick to our body. If this happen, the world will freeze for a moment to see your smile.”

Brace bahkan kemudian bisa diajak mendaki dalam beberapa kali perjalanan saya.

6. Jangan lupa berdoa.

Semoga semua kegiatan berjalan lancar, aman, dan selamat hingga pulang kembali ke rumah dan bertemu keluarga masing-masing. Aamiin.

Catatan:

  • Tips ini tidak mutlak berlaku untuk semua karena setiap skolioser memiliki kondisi dan keunikan skoliosis masing-masing (kecuali poin no. 6 ya :p).
  • Sebelum melakukan kegiatan, WAJIB sekali hukumnya untuk bertanya lebih dulu pada dokter atau ahlinya mengenai pantangan atau larangan dalam berkegiatan.
  • Jika kemping (atau kegiatan outdoor lainnya) yang akan dilakukan adalah yang pertama kalinya buatmu, JANGAN langsung menempuh jarak jauh dan jalur terjal yang medannya sulit.

Ingat, jangan mudah tergiur akan foto-foto di media sosial dan ajakan teman apalagi sekedar ikut-ikutan untuk traveling. Ikuti perjalanan dengan jarak dekat terlebih dulu dan jika perlu lakukan olahraga minimal sebulan sebelum hari H perjalanan yang mengharuskan jalur khusus tertentu.

Misalnya sebagai skolioser sekaligus juga MVPers (memiliki kelainan katup jantung atau MVP), untuk mendaki sampai Cibereum di Taman Nasional Gede Pangrango, setidaknya saya harus latihan jogging (yang kemudian diganti menjadi jalan kaki saja karena beban pada skoliosis saya) sejauh minimal 2 putaran lapangan bola (atau 800 m) di setiap akhir pekan minimal sebulan sebelum keberangkatan. Bahkan untuk orang yang tidak memiliki skoliosis dan MVP pun wajib untuk melakukan latihan terlebih dulu sebelum mendaki gunung agar jantung tidak kaget.

Nah, jika ada yang mengajak saya naik gunung yang notabene lebih jauh dan lebih terjal lagi? Hmm.. sabaaar… Saya harus latihan dulu supaya tidak merepotkan orang lain!

 

Have a great camping time!

 

 

 

Ditulis oleh Yulia.