wpid-img-20131207-wa00.jpg

Skoliosis, sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun.

Bila diingat-ingat, semua berawal ketika aku masih duduk di bangku SD. I’m not a morning person. Ya, sejak kecil aku sudah terbiasa tidur larut malam. Aku terbiasa bermain dulu sepulang sekolah dan mengerjakan PR di malam hari sebelum tidur. Semua baik-baik saja. Nilai pelajaranku di sekolah tergolong baik. Aku memiliki beberapa sahabat dekat meskipun aku sangat pendiam di sekolah. Jika di rumah, jangan harap mulutku akan berhenti berbicara.

Kelas 2 SD. Aku sedang mengenakan baju sendiri di kamar. Punggungku membelakangi sebuah cermin. Ketika aku menolehkan kepalaku, aku melihat punggung sebelah kanan agak menonjol. “Hm, sepertinya setiap orang juga begitu.” Aku mengabaikannya dan bermain lagi seperti biasa.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu malam sekitar pukul 12, aku masih mengerjakan PR. Ketika selesai, aku merasakan tulang rusuk sebelah kiriku agak sakit. Aku mengernyit seketika. Mama datang menghampiri dan bertanya ada apa. Tulang rusuk kiriku, bagian bawahnya agak menonjol. “Hm, mungkin aku hanya capek,” ujarku tetap dengan ceria kepada Mama.

Mama mengambilkan minyak kayu putih dan mengusapkannya di bagian yang menonjol itu. Aku tidur, dan hari-hari selanjutnya. Tak ada yang aku keluhkan.

Rok merah berganti menjadi rok biru. Masa SMP. Semua masih berjalan seperti biasa. Aku yang pendiam dengan beberapa teman dekat.

Masa SMA menjadi masa terberat. Masa putih abu-abu, kata orang. Ini merupakan masa peralihan diriku dari anak-anak menjadi “anak perempuan”.

Aku mulai memperhatikan penampilan. Teman-teman perempuan yang sebaya denganku mulai bersolek, memilih pakaian modis. Melihat sekelilingku, teman-teman perempuan di sekolahku selalu mengenakan seragam yang body-fit. Mereka mulai terlihat berubah menjadi “perempuan”. Aku? Aku harus menyesuaikan diri dengan tubuhku terlebih dahulu.

Bentuk tubuhku mulai berubah. Punggung sebelah kananku semakin lama semakin menonjol ke belakang, sedangkan punggung sebelah kiriku semakin lama semakin menjorok ke dalam. Aku mulai minder. Mama yang seorang penjahit, mulai khawatir dan sibuk menjahitkan pakaian dengan ukuran longgar untukku. Aku mulai merasa orang-orang memandangiku dengan tatapan aneh dan tatapan mereka tertuju ke punggungku.

Ketika giliran kelasku menjadi petugas upacara, aku menjadi salah satu paskibra. Kami latihan hampir setiap hari sebelum upacara. Ketika kami berbaris di depan tiang bendera, kami meminta tolong salah seorang teman kami melihat dari belakang, apakah barisan kami sudah rapi.

Temanku berteriak “Fera, berdiri yang tegak dong.” Aku merasa aku sudah meluruskan badanku sebisa mungkin. Aku tahu dia tidak bermaksud menyakiti, tapi ucapan itu terus menggema di pikiranku.

Aku semakin sering memandangi tubuhku di kaca dengan tatapan kosong. Semua pakaian yang dijahitkan Mama tidak pernah terlihat bagus di tubuhku. Aku hanya merengut kesal di depan cermin. Aku mulai merasa tidak pantas bagi teman-teman. Jika mereka meninggalkanku, itu hal yang wajar. Siapa yang mau berteman dengan monster sepertiku.

Aku mulai menarik diri dari teman-temanku. Teman-temanku sendiri sebenarnya tidak pernah membahas tentang punggungku sama sekali. Aku berpikir bahwa aku mungkin sebaiknya tidak terlahir di dunia ini. Aku hanya membebani dan membuat malu keluarga. Hal seperti ini berjalan hingga aku masuk ke dunia kerja dan dunia kuliah.
Tidak ada yang pernah membahas tentang punggungku di lingkungan kerja maupun kuliah. Meskipun begitu, aku tetap rendah diri dan tertutup.

Aku kemudian browsing mengenai kondisi punggungku dan aku mengetahui bahwa ini adalah skoliosis. Dengan semua informasi di internet, yang aku tahu hanyalah aku akan mati dengan jantungku tertusuk oleh tulang rusukku sendiri. Aku menangis sendirian di malam hari. Aku tak pernah membiarkan keluargaku melihatku menangis.

Bekerja sambil kuliah tidaklah gampang bagiku. Kegiatanku padat dari jam 8 pagi hingga jam 9 malam. Dengan segelintir tugas, aku biasa akan tidur jam 3 atau jam 4.

Lalu suatu ketika, nyeri punggungku semakin intens dan menyiksa. Aku bahkan tidak bisa pergi bekerja dan demam. Aku hanya bisa terbaring di tempat tidur. Itulah saatnya aku memutuskan untuk pergi ke dokter khusus tulang belakang.

Skoliosis 115 derajat, harus segera dioperasi, jika tidak, maka organ-organku akan terhimpit oleh tulang rusukku sendiri. Hanya satu kalimat itu yang kudapat setelah kembali dari RS.

Kemudian datang seseorang yang menyebut bahwa nasib Mama sungguh kasihan, memiliki anak bungsu yang cacat. “Cacat?” Aku bahkan tak pernah memikirkan kata itu. Aku hanya tahu aku berbeda. Apa aku seburuk itu? Apa aku begitu memalukan? Mama memarahi orang itu dan mengatakan bahwa aku bukan anak cacat. Mataku basah ketika mendengar hal itu, rasanya sakit sekali, namun aku memaksakan diriku tertawa dan bilang itu bukan masalah. Malamnya, aku menangis lagi di saat semua orang tertidur. Menangis tanpa suara lambat laun menjadi keahlianku.

Hingga suatu ketika, aku mencapai titik dimana aku menyadari sesuatu. Aku berhenti menyalahkan skoliosisku. Aku menyadari, saat ini, aku dapat melihat dengan sangat sangat jelas siapa yang selalu berada di sampingku sejak dulu, siapa yang menyayangiku dengan tulus.

Aku bersyukur, sangat bersyukur karena Tuhan memberikan skoliosis ini. Jumlah temanku mungkin tidak banyak. Keluargaku bukanlah keluarga besar. Tapi karena merekalah, mereka yang selalu berada di sisiku dan mendukungku, aku bertahan hingga sekarang. Aku merasakan mereka selalu menggenggam tanganku dengan hangat. Tangan yang tidak akan melepaskanku. Aku ingin terus hidup. Aku percaya pada Tuhan dalam setiap langkahku. Aku ingin menjadi matahari yang bisa menyinari dan menghangatkan orang lain.

Di dunia ini, ada hal yang tidak bisa kita kendalikan dan ada hal yang bisa kita kendalikan. I can’t stop the waves, but I can learn how to surf.  Aku punya skoliosis, aku tidak bisa menghilangkan skoliosisku ini. Tapi aku bisa memilih untuk hidup dengan baik dan positif. Aku bukan lagi si anak perempuan yang berbeda atau cacat. Aku sudah tumbuh.

Aku, Fera Leo, perempuan spesial yang mendapatkan anugerah skoliosis. Aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan.

I can’t stop the waves, but I can learn how to surf.

image

With Love,
Fera Leo