DSC_0346-min

I believe there is nothing between you and your dreams except your giving up to try.

Tulisan ini dibuat untuk memotivasi teman-teman lain seperjuangan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita sungguh-sungguh. Tidak ada gunanya menangisi kekurangan kita. Bukan mau menggurui tapi yang saya tekankan disini adalah bagaimana saya melihat peluang, bagaimana saya bisa mengatasi kesulitan dan bagaimana kekuatan mimpi bisa mengatasi segalanya. Saya yakin banyak sekali teman-teman disana yang punya potensi hebat dan mimpi besar. Semoga saja ada yang terinspirasi dan mampu berbuat lebih.

PHOT0102-min

Tidak ada orang yang terlahir sempurna, sudah hukum alam, sudah ketentuan Sang Pencipta Sang Maha Sempurna. Saya percaya bahwa apapun yang diciptakan-Nya pasti ada maksud dan tujuan. Pun ketidaksempurnaan. Dalam dunia sains, ketentuan ini bisa kita lihat dari zat penyusun kita pun ada yang namanya positif negatif. Itu ada di atom penyusun tubuh yang mengandung positron dan elektron dan antara darah yang mengalir dimana ada darah yang kaya oksigen dan kaya karbondioksida. Semuanya memang diciptakan dengan tujuan untuk mencapai keseimbangan. Kalau dalam ilmu fisika hal ini terkait keseimbangan energi.

Nama saya Agnis Triahadini, scoliofighter. Usia saya 23 tahun. Saat pertama kali terdeteksi saya masih berusia 13 tahun, kelas 2 smp (2005). Sejak bayi saya sudah keluar masuk rumah sakit dan mendapat penanganan medis. Mulai karena pertumbuhan syaraf yang terganggu sehingga saya tidak bisa telungkup, menaikkan kepala bahkan untuk belajar jalan saat bayi pun terlambat. Kemudian waktu SD hingga 1 tahun lebih saya rutin kontrol dan menjalani terapi penyinaran infrared karena saya terkena bronkhitis. Sampai di titik itu pun skoliosis saya tidak terdeteksi sama sekali. Baru setelah SMP, orang tua menyadari ada yang abnormal dengan punggung saya yang berpunuk.

Singkat cerita karena di asal saya, Pemalang, tidak ada dokter orthopedi maka saya dirujuk ke solo. Saya tidak tahu derajat saya waktu itu berapa, intinya saya disarankan operasi di jakarta tapi karena tidak ada biaya dan kami sekeluarga ketakutan akan resikonya maka penarikan tulang dan pemasangan Gips selama 6 bulan terpaksa saya jalani. Tercatat 3 kali saya diopname masing-masing sekitar 2 mingguan untuk menjalani penarikan tulang dan pemasangan gips (terakhir diganti boston brace). Dari tahun 2005-2012 pada intinya saya hidup 23 jam dengan alat penyangga. Dan setiap beberapa bulan sekali harus check-up ke solo. Setelah kuliah saya baru tahu kalau derajat saya sudah 88-89 derajat, atas bawah, sehingga membentuk huruf S. Istilahnya skoliosis thoracal lumbalis.

Harus diakui, saya menjalani masa-masa yang cukup sulit, up and down. Keluarga memang support pada pengobatan, tetapi mereka membatasi ruang gerak saya selama sekolah. Tujuannya agar saya tidak kecapekan. Saya menjadi anak rumahan yang baik-baik. Kegiatan saya hanya sekolah, les, membantu orang tua dan belajar. Nilai saya selalu bagus di kelas (walaupun sehabis opname pertama kali peringkat saya di kelas sempat terjun bebas). Beberapa kali mewakili lomba mata pelajaran hingga tingkat provinsi. Teman-teman dan guru-guru saya respect pada kemampuan akademis saya dan tingkat kepercayaan diri saya. Saya hanya tutup telinga ketika pernah suatu masa saya di-bully karena cara jalan saya aneh. Mayoritas dari lingkungan saya tersebut tidak pernah menyinggung tentang kelainan saya, mungkin mereka takut saya jadi minder atau bagaimana.

Saya bosan akan rutinitas saya. Saya ingin keluar dari zona nyaman yang serba anti capek. Saya punya misi dan cita-cita yang besar. Akhirnya ketika saya kuliah, saya beranikan diri untuk aktif organisasi dan memilih konsentrasi ilmu yang bertentangan dengan kondisi fisik saya. Orang tua saya dan guru SMA saya menganjurkan jurusan fisika sebagai pilihan. Keputusan ini didasari oleh kemampuan akademis saya yang menonjol di bidang ini dan asumsi bahwa di fisika kuliahnya tidak berat. Sejatinya saya ingin sekali masuk mikrobiologi ITB, fakultas kedokteran atau jurusan sastra asal universitasnya tidak di semarang.

Orang tua berbeda pendapat, “Kuliah di semarang saja jadi kami bisa mengawasi kalau terjadi apa-apa”. Begitu pula guru fisika saya, “Kamu masuk fisika undip saja, ganti formulir pendaftarannya, biologinya diganti fisika saja.”

Pada akhirnya saya menurut walaupun setengah hati, saya hanya berdoa bahwa rejeki yang saya terima ini akan membuat saya lebih baik daripada ketika saya memasuki jurusan pilihan hati saya. Seperti mendapat hidayah-Nya, saya cukup enjoy di dunia perkuliahan. Saya mengambil konsentrasi fisika bumi kemudian saya ikut 3 macam organisasi. Yang namanya ikut aktif organisasi kampus capeknya bukan main. Jadi daripada saya mengeluh dan merepotkan banyak orang, saya berusaha berkarya senormal mungkin. Agenda atau program kerja mulai dari skala teman-teman sejurusan, mengadakan seminar hingga mengadakan olimpiade fisika di hampir setiap karesidan di Jateng saya ikuti. Saya berpengalaman menjadi berbagai macam seksi di kepantiaan meskipun tidak pernah jadi ketua atau sekretaris. Tidak apa, yang penting softskill manajerial waktu, interpersonal,kerja sama hingga masalah meredam ego bisa terasah. Saya cukup sering dipercaya teman-teman atau Ketua organisasi untuk melakukan suatu tugas. Itu membuat saya senang dan karir organisasi saya sempat meroket.

Masuklah pada masa kontradiksi dalam hidup. Masa-masa kuliah saya benar-benar merasa hidup. Organisasi saya lancar, wawasan bertambah dengan rajin ikut seminar di akhir pekan, IPK saya hampir selalu cumlaude, teman-teman tidak menganggap saya aneh dan saya tidak mengalami hambatan fisik serius (meskipun kalau sendirian di kost kadang bisa tepar). Namun, ada yang kurang bagi saya. Trully passion saya adalah riset dan ilmu kebumian, sehingga saya memilih konsentrasi fisika bumi. 1-2kali ikut aktifitas penelitian indoor membuat saya ingin mengembangkan aktifitas outdoor. 1-2kali ikut praktikum atau kegiatan lapangan ternyata tubuh tidak bisa bohong. Walaupun saya merasa performa saya cukup baik dibandingkan dengan orang normal, tetapi jika saya tetap memiliki derajat berat tentu cita-cita saya akan terhambat.

Disisi lain ada keinginan jangka pendek adalah menjadi Ketua Divisi (Kadiv) di organisasi. Berbekal kinerja baik, saya ditunjuk oleh ketua himpunan untuk jabatan tersebut. Keinginan saya saat itu sudah hampir terpenuhi. Apalagi sedang on fire-nya sebagai mahasiswa untuk mengembangkan potensi. Tanpa diketahui oleh banyak pihak, di hari saya ditunjuk sebagai kadiv, saya sedang di rawat di rumah sakit untuk menjalani operasi. Saya memutuskan untuk menjalani operasi di awal tahun 2012. Tindakan tersebut bertujuan untuk mendukung cita-cita saya menjadi ahli geofisika, fisika bumi sekaligus ahli gunungapi. Selain itu untuk mempermudah mobilitas tubuh, memperkuat fisik dan mengkoreksi bentuk tulang belakang saya.

Konsekuensi yang harus saya hadapi adalah saya memilih untuk merelakan jabatan di tersebut dan vakum dari kegiatan di luar perkuliahan selama masa pemulihan pasca operasi yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Masa – masa yang cukup sulit yang saya mermotivasi saya untuk berbuat lebih setelah pulih. Sekaligus untuk membayar keraguan pihak terkait kondisi saya. Memang ada yang sempat menyangsikan dengan berujar seperti ini, “Kamu yakin tetep mau ambil geofisika? Gak ambil konsentrasi lain aja yang gak capek? Apalagi kamu operasi nanti pasti tidak boleh ini itu.” Tapi saya tetap memantapkan hati pada cita-cita saya.

Masa penyembuhan berlangsung lebih cepat berkat dukungan dari keluarga dan orang-orang terpenting dalam hidup saya. Beberapa bulan setelah operasi dan masih menggunakan boston brace, saya dapat 3 kali mengikuti fieldtrip (kuliah lapangan) di Karangsambung, Bayat dan Gedongsongo sekaligus praktikum beberapa mata kuliah geofisika . Saya juga berkesempatan menjadi panitia lagi di agenda terbesar Diponegoro Physics Competition (olimpiade fisika di setiap karesidenan di jateng untuk SMP dan sma-sudah disebutkan di atas) yang diselenggarakan di beberapa kota di Jawa Tengah. Saya berhasil mengatasi kesulitan yang ada.

Kalau pembaca tahu, fieldtrip di Karangsambung itu tidak main-main jalan kaki, hiking, lihat batuan-batuan untuk belajar sesuatu, dari jam 9an sampai jam 5 sore. Sampai ada teman saya yang terus menggandeng saya dan menawari untuk digendong kalau saya kesulitan (waktu itu harus melompati sungai berbatuan). Alhamdulilah lancar, saya tidak sakit sama sekali. Juga di beberapa fieldtrip atau kegiatan pengukuran data di lapangan untuk proyek dosen, praktikum, membuat paper, membantu teman skripsi, bahkan untuk menyusun skripsi saya sendiri. Membawa alat-alat pengambilan data yang cukup berat pun saya tidak masalah. Kegiatan di lapangan tersebut tidak menghambat saya, walaupun tetap saya tidak sekuat tenaga orang normal, tetapi saya tetap berusaha bekerja all-out dan yang penting tidak merepotkan orang lain.

Tahun terakhir kuliah (2013-2014), saya ingin menjadi bermanfaat dan meningkatkan prestasi. Semua hasil ini juga sudah dirintis dari sebelum operasi (berkesinambungan dengan paragraf sebelumnya). Tetapi momentum kebangkitannya ada setelah post-surgery. Ada beberapa hambatan, seperti keterbatasan fasilitas pendukung, masalah pendanaan sampai sedikitnya teman yang bersedia bekerjasama dalam pembuatan karya ilmiah. Alhamdulilah semua bisa diatasi. Saya dan beberapa teman-teman berhasil mewakili universitas berkompetisi di dua ajang terbesar mahasiswa geofisika tahun 2013. Dimana saya dan rekan satu tim bersaing dengan peserta lain yang murni dari jurusan geofisika dan secara dasar ilmu tentu lebih baik dari kami. Berkat doa dan usaha, kami akhirnya berhasil menduduki peringkat 4 di salah satu kompetisi tersebut.

Memanfaatkan instrumen seadanya di laboratorium kampus, kami juga dapat membuat beberapa karya ilmiah. Yang kemudian berkesampatan dipresentasikan di beberapa seminar dan konferensi ilmiah. Proyek tugas akhir (skripsi) hasil kerjasama dengan rekan saya juga sempat dipresentasikan di Seminar dan yang terbaru sebuah konferensi. Padahal proyek tersebut didasari karena budget minim dan keterbatasan alat tapi kami ingin memberi manfaat bagi orang lain yang membacanya. Di luar dugaan dosen kami appreciate sampai berminat untuk melanjutkan penelitian kami (entah realisasinya bagaimana yang jelas saya senang ide saya bermanfaat) dan adik angkatan kami juga melanjutkannya melalui program kreativitas mahasiswa setelah meminta izin kami.

Hal kedua yang saya sukai adalah kegiatan sosial sukarelawan dimana baru-baru ini saya baru selesai melakukan pekerjaan sosial. Menurut saya, dengan menjadi relawan kita dapat berbagi kebaikan dan berpartisipasi dalam perubahan masyarakat. Saya peduli pada isu lingkungan dan pendidikan. Saya berpartisipasi pada dua project (work camp) yang masing-masing berlangsung selama dua minggu. Dalam work camp tersebut diikuti oleh beberapa relawan asing dari beberapa negara sehingga saya bisa mempromosikan kelebihan Indonesia disela-sela percakapan sehari-hari. Selain itu, saya bisa belajar berkomunikasi dengan bahasa inggris.

DSC_0233-min

Project pertama merupakan penanaman mangrove di pesisir Pekalongan untuk mencegah abrasi sekaligus mempresentasikan manajemen sampah di sebuah SMA. Dalam project tersebut tidak mudah bagi yang fisiknya tidak kuat karena harus menanam mangrove selama 2 jam lebih. Alhamdulilah semua lancar bagi saya. Selanjutnya dalam edukasi seni berobjek anak-anak, khususnya yang kurang beruntung dalam ekonomi maupun tempat tinggal. Sebagian dari mereka hidup di lingkungan bekas prostitusi dan kondisi ekonomi sederhana. Tujuannya agar mereka mengurangi waktu untuk berbuat hal negatif dan mengasah kreatifitas mereka. Saya merasa sangat senang dapat terlibat dalam kegiatan beratmosfir international sekaligus benar-benar aktif melakukan bermanfaat bagi orang lain.

PHOT0137-min

Sekarang saya bercita-cita melanjutkan kuliah lagi di Jepang dan saya ilmu gunung api sebagai fokus studi saya. Dunia riset adalah minat terbesar saya di samping kegiatan sosial. Saya memimpikan setidaknya saya bisa bermanfaat bagi Indonesia dan membuat lingkungan di sekitar saya lebih baik. Saya memang tidak begitu pintar, tapi saya harus mencoba. Bahkan terang-terangan di aplikasi beasiswa saya tuliskan garis besar cerita di atas dengan bagaimana saya berjuang menjadikan skoliosis sebagai motivasi sebagai poin utama. Saya mencoba, entah hasilnya lolos atau tidak yang penting saat ini saya punya mimpi, saya berusaha dan saya berdoa. Entah profesi apa yang akan saya geluti nantinya yang penting saya berusaha. Semoga Allah mengabulkan.

Sekedar catatan, jika memang terlihatnya kok gampang sekali proses pengobatannya, enak keluarga support sekali dan lain sebagainya. Tidak semudah itu. Untuk operasi dengan segala kemudahannnya itu didapat karena saya memantapkan niat dan berdoa setiap selesai sholat selama lebih dari setahun. Terus didukung dengan berbuat baik dengan orangtua sehingga mereka ridho dan keringanan biaya karena saya peserta askes yang dulu prosedurnya tidak sesulit sekarang (sekarang bpjs). Ingatlah jika keinginanmu kuat maka semesta akan berkonspirasi untuk mendukungmu. Dan selalu melihat ke bawah bahwa ada yang tidak seberuntung kita tetapi tidak menyerah, kemudian lihatlah ke atas dan pikirkan di balik apa yang orang lain dapat tentu ada pengorbanan yang harus di bayar. Allah (Tuhan bagi yang non-muslim) ada bersama hamba-Nya.

Hei, kawan tulang belakang kita berharga dan unik. Kalian pasti punya kelebihan. Kejar! Saya percaya bahwa Allah menciptakan kekurangan kita ini lengkap dengan kelebihan kita. Bisa jadi sekarang saudara-saudara scoliofighter yang sekarang merasa sedih, tidak percaya diri dan lainnya, memiliki potensi yang hebat-hebat. Hanya belum ditemukan atau dieksplorasi saja. Pesan yang saya dapatkan dari salah satu dokter orthopedi di RSO Soeharso adalah “Jangan mencoba berpikir kok kita tidak normal tapi pikirkanlah bahwa apakah orang normal bisa menanggung anugerah seperti kita”. Dengan begitu kita akan senantiasa bersyukur dan punya kekuatan untuk bangkit disaat kita merasa terjatuh.

Skolioser punya mimpi besar, WHY NOT?

DARE TO DREAM

*Judul asli dari penulis: Scoliosis with no-boundaries

DSC_0346-min