Halloooo, aku Rini. Umur aku 24 tahun. Profesi aku sekarang ini jadi guru. Alhamdulillah yaa, aku ketahuan tulangku skoliosis waktu umur 12 tahun. Kira-kira hampir 10 tahun aku dan keluargaku tau kalo aku skoliosis. Pada saat ketahuan skoliosis, keluargaku waktu itu sangat down. Kami melakukan berbagai usaha mulai dari terapi pakai infrared, pijat, minum obat dan lain sebagainya. Sampai pada akhirnya, ada yang menyarankan ke Rumah Sakit Ortopedi Soeharso Solo.

Pertama kali ke sana, aku di periksa dan langsung rontgen. Aku ditangani sama dr. Pamudji. Kata dokter, pilihannya hanya dua. Operasi atau traksi (terapi yang badannya ditarik pakai beban selama dua minggu penuh), tapi operasi punya efek samping pada kebutaan, mandul, ataupun kematian (ya elah dok!). Jadi keluarga memutuskan untuk ditraksi saja. Baiklah, aku pasrah.

Di daguku dipasangi alat dengan beban 2-5 kg, sedangkan pinggulku dipasangi alat yang bebannya 10-20 kg. 2 minggu terbaring di bed rumah sakit, alat hanya bisa dilepas ketikan makan, mandi, dan buang air. Setelah 14 hari ditraksi, badanku digips untuk mengukur korset yang akan digunakan setelahnya. Setiap tiga sampai enak bulan sekali kami ke solo untuk kontrol. Oya, aku dan keluarga berdomisili di bandung. Setiap setelah kontrol juga biasanya langsung ditraksi.

Di masa SMP sekolahku sempat ‘terbengkalai’. Tapi alhamdulillah banyak yang mengerti aku, karena aku naik kelas meskipun nggak masuk selama tiga bulan (hahahahah). Yang paling menyedihkan, aku harus berhenti ekskul seni tari, karena selama SMP dibadanku ditempeli gips yang beratnya sampai dua kilogram dan mengharuskan saya tidak mandi selama berbulan-bulan.

Dari SMP, berlanjutlah jenjang pendidikanku ke SMA. Di SMA, gips berubah menjadi korset berbahan kulit. Memakai gips atau korset itu tindakan lanjut setelah terapi traksi. Aku melakukan rangkaian terapi traksi sebanyak lima kali. Pada saat sekolah dulu, aku selalu menutupi punggung dengan menggunakan jaket yang lengannya diikatkan di pundakku. Itu dilakukan untuk menutupi bentuk korset di tubuhku.

Pada saat kelas XI, korset yang kugunakan diganti menjadi yang berbahan fiber. Mulai dari bentuk dan bahan korset yang baru, aku selalu merasa perang batin. Bentuknya membuat badanku terlihat miring pada saat di pakai. Bahannya, keras, sakit, membuat sesak napas, dan lengan kiriku selalu sakit ketika menggunakan korset fiber itu. Maka ketika tidur aku selalu mengunci kamar tidurku dan diam-diam membuka korset fiber itu.

Alhamdulillah, dari berbagai ikhtiar yang kami lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali. Derajat skoliosisku bertambah. Sampai pada akhirnya tahun 2010, saat aku sudah kuliah aku tidak mau meneruskan terapi untuk skoliosis. Cukup. Aku capek. Buang-buang duit.

Namun entah bagaimana, aku selalu berjodoh dengan tempat kegiatan yang jauh. Rumahku di sekitar Kopo (Bandung Selatan) dan kampusku di sekitar Ledeng (Bandung Utara). Seperti mahasiswa lainnya, aku kuliah, mengerjakan tugas, berkumpul bersama teman-teman, observasi, skripsi dan lulus. Sempat juga bekerja pada saat kuliah, lagi-lagi jarak dari rumah ke tempat kerjaku jauh, karena tempat kerjaku berada di daerah gunung. Lalu sekarang pada akhirnya aku bekerja di sekitar Arcamanik (Bandung Timur).

Sejak melepas alat-alat itu, aku merasa seperti orang lain yang ‘normal’. Sakit pinggang, punggung, dll saya pikir orang lain juga merasakan karena tidak ada perkerjaan yang tidak melelahkan. Kalaupun aku berolahraga seperti renang dan yoga, tujuanku bukan untuk memperbaiki keadaan tulang belakang yang bengkok ini tapi ingin langsing. Ya, langsing. Aku merasa punggungku beda itu ketika mengenakan korset yang untuk melangsingkan ibu-ibu ketika mengenakan kebaya. Kenapa? Karena pada korset bagian kanan akan terasa sangat membentuk pinggang yang masuk sebelah ini. Dan lagi, kawatnya akan terasa menusuk di pinggang bagian kanan. ‘Jendolan’ di punggung sebelah kanan ini memang mulai tidak santai.

Mungkin sekarang skoliosisku lebih dari 50 derajat. Tapi aktivitasku tak bisa berhenti begitu saja. Semakin hari semakin lelah, tapi tanpa memikirkan kalau aku skoliosis.

image