wpid-img-20160623-wa0011.jpg

Pada kesempatan kali ini, aku akan menjabarkan perbedaan-perbedaan yang sedemikian terjadi pada hidupku terutama pada tulang belakangku, sebelum terdapat pen ataupun sesudah adanya pen. Well, sebelum membahas topik ini lebih jauh lagi, sambil mendengarkan Aku Tidak Malu dari Band Wali untuk sedikit merenung atas apa yang pernah dilalui.

****

Menarik garis ke masa itu, Senin 18 Januari 2016 sekitar pukul 20.00 malam, aku di pindahkan dari Ruang ICU ke Ruang Rawat Inap (Ranap). Usai dipindahkannya aku dari ranjang ke kereta dorong, serta selesainya perawat yang mengemasi peralatan. Aku diboyong keluar ruangan ICU rasanya seperti menghirup udara bebas kembali. Bergulir melewati lorong-lorong kecil, menuruni lift, lalu kembali mengarungi lorong-lorong kecil nan panjang di tengah sunyinya malam dan hembusan angin yang menggigit. Dingin.

Malam itu kesadaranku sudah sempurna. Sebelum ke ruang rawat inap, aku mengunjungi ruang radiologi untuk rontgen, tapi urung dilakukan, mengingat hari sudah malam atau mungkin ada hal lain, entahlah. Selama di kereta dorong, aku hanya menatap langit-langit atap sesekali melihat orang-orang hilir mudik. Tak sabar menanti suasana baru, pastinya tanpa adanya lagi belalai-belalai plastik yang menjuntai di tubuh.

Menginjak pukul sembilan, aku sampai di kamar rawat inap. Lantas tubuhku kembali dipindahkan dari atas kereta dorong ke ranjang tempat tidur. Oh, lagi lagi di angkat. Rasanya itu masih terbayang jelas, tapi sulit sekali dijelaskan oleh kata-kata. Sakit? Ah, tidak juga. Nyeri? Ah, bukan itu. Mungkin nano-nano atau tidak jelas.

Keesokannya, sebelum azan Subuh berkumandang, suster menyibak gorden kamar, mengantarkan air hangat untuk mandi. Wih, mandi. Lagi lagi menjadi hal yang di tunggu-tunggu haha. Usai mandi dan mematut seragam pasien khas Rumah Sakit, aku berbincang-bincang dengan kedua orangtuaku membahas kejadian selama di Ruang ICU dan mereka terperanjat antara sedih dan sebagainya.

Selang beberapa waktu kemudian Dokter datang mengunjungi untuk mengecek keadaanku, mengajarkanku berbagai hal yang sebenarnya sudah familiar di telinga namun seakan sulit untuk dilakukan. Ya, seperti belajar duduk, berjalan, miring kanan, miring kiri, dan lain-lain. Semua mulai dari nol lagi. Mendengar penjelasannya aku macam bayi besar saja hahaha.

Itulah sebagian potongan kisah beberapa hari di ruang rawat inap. Menggurat penuh kenangan, dari pagi, siang sampai malam, berputar. Hari–hari membosankan. Hari–hari melelahkan. Hari–hari perjuangan. Dan hari–hari menunggu kepulangan.

Jika harus mengingat, sudah banyak yang ku lewati di dalam ruangan berpendingin itu. Masa – masa tidak bisa membuang air kecil sebab suatu hal, sehingga harus berkawan dengan kateter (lagi). Di situ aku menangis tergugu. Masa–masa belajar memiringkan badan ke kanan dan kiri yang penuh perjuangan, dimana rasanya badan terlalu berat untuk di geser, hingga bantal guling menjadi penyemangat atas kerinduan memeluknya haha. Masa – masa belajar duduk, dimana sebelum bangun dari atas ranjang harus menyiapkan kuda–kuda terlebih dahulu, disusul ketika sudah terduduk kepala rasanya pening untuk beberapa detik. Masa–masa belajar berjalan, dimana saat kedua kaki turun dari ranjang serasa baru menginjakan kaki di bumi pertama kali. Dingin. Haha. Lantas terhuyung–huyung mencari pegangan untuk mencoba berjalan selangkah dua langkah.

Masa–masa ketika senja tiba, melihat ke bingkai jendela menyaksikan semburat jingga di cakrawala, Uhhh. Masa–masa bila malam tiba sulit tertidur kalau suster belum menyuntikan obat haha, untuk yang satu ini entahlah mengapa bisa terjadi. Seperti kehilangan sesuatu. Spontan.

Masa–masa saat menjelang Subuh, dimana suster rutin men-tensi tekanan darah padahal mata masih dalam posisi memicing, yang sejurus kemudian suster lainnya membawa air hangat untuk mandi. Masa–masa berjalan santai di koridor ruang rawat inap setiap pagi yang bertujuan memperlancar belajar jalan sekaligus melihat suasana luar, dimana malah jadi pusat perhatian orang karena mungkin menurut mereka terlihat aneh, entahlah. Masa – masa lebih hafal dengan jam makan pagi, siang dan sore ketimbang jam besuk hahaha.

Masa–masa mengganti bebat perban oleh suster, Ah aku ingat betul kejadiannya. Begini, setelah berada di ruang rawat inap, suster mengganti dengan perban baru. Sebelumnya, aku memiringkan badan ke arah kanan, lalu suster secara perlahan membuka perekat perban itu, pada awalnya sedikit sakit karena bulu–bulu halus di sekitar punggung atas ikut terangkat, tapi hanya itu. Selanjutnya, tidak terasa apa–apa. Hanya rasa dingin setelah suster membasuh cairan entah obat atau apa ke sepanjang bekas jahitan. Kukira akan sakit, nyeri dan sebagainya tapi tidak sama sekali, malahan aku sampai terkantuk – kantuk menunggu sampai selesai. Adapun perbincangan antara aku dan suster:

Suster  : “ De ? ”

Aku     : “ Iya, Sus ”

Suster  : “ Jangan tidur “

Aku     : “ Nggak, kok (sambil merem)”

Suster  : “ Yeeee, si Ade mah keenakan diganti perban malah tidur “

Aku     : “ (terkekeh mendengarnya)”

Suster  : “Nggak sakit kan, De? “

Aku     : “ Nggak, Sus. Enak malah dingin hehe. Jahitannya panjang nggak, Sus? “

Suster  : “ Lumayan, De. Sepenggarisan. 30cm lebih “

Aku     : “ Ber – Oh panjang (mikir)”

Tak lama dari dialog tersebut, bebat perban baru telah menutupi seluruh bagian bekas jahitan. Sempurna.

Semua masa–masa itu sempurna sudah terlewati di Rumah Sakit, dari awal hingga akhir. Akan aku ingat dengan baik, sebaik hati para Suster dan Dokter selama ini. Kini masa–masa itu hanyalah seuntai ‘kenangan’ yang sewaktu – waktu akan ku selami ketika merindukannya.

****

Dan waktu untuk kesekian kalinya melesat cepat bagai anak peluru.Berbulan-bulan sudah titanium bersemayam dalam tubuhku. Rasanya baru kemarin aku rontgen, menghitung jumlah derajat, mengurus persiapan operasi yang melelahkan, dan ternyata kini benda ‘asing’ itu telah bersamaku, mendampingi kemana pun aku pergi, melewati hari–hari bersama, menemani si Bobon (panggilan khusus tulang belakangku) di dalam sana. Sungguh indah yang dijanjikan-Nya. Sekarang tiba waktunya untuk-ku memberikan penjelasan atas semua yang telah terjadi sebelum maupun sesudah operasi skoliosis.

Dulu, aku terlahir normal ke dunia, merasakan apa yang orang normal rasakan. Hingga suatu ketika aku mulai merasakan ada yang ‘tidak beres’  dalam tubuhku. Itu terjadi pada usia belia di tengah ke awaman saat itu, sebagai gadis polos aku menganggapnya hal sepele, yang beberapa tahun kemudian terjawab sudah bahwa ini bukan hal sepele yang dulu sempat terpikirkan. Lagi, lagi dan lagi waktu berlalu tanpa terasa.  Kini, usiaku baru menginjak kepala dua, bukan lagi gadis belia polos seperti beberapa tahun silam. Dan dalam tulisan ini aku tak ingin mengadili masa lalu-ku bersama tulang belangkangku yang bengkok, lantas memakinya seperti dulu tidak terima dengan apa yang dititipkan-Nya, sungguh bukan. Aku hanya ingin mengenang kembali masa-masa bersamanya, masa yang mengajariku arti bahwa fisik bukan segala-galanya, masa dimana ikhlas adalah kunci menjalani hari bersama ‘pemberian’-Nya, dan masa-masa yang tentunya punya ‘tempat’ spesial di tubuhku. Mari, bersama mengenangnya~

********

Beberapa foto di bawah ini adalah foto bentuk tubuhku, dulu. Sebelum mengetahui lebih dalam tentang Skoliosis, dimana ‘masa bodo’ adalah cara paling sederhana tidak memikirkannya, menganggap ini tidak akan menjadi perubahan besar di waktu ke depan.

wpid-img-20160623-wa0011.jpg

Pada gambar di bawah ini, menggambarkan sebenar–benarnya bentuk tulangku dulu. Mungkin sebagian temanku kaget setelah aku memutuskan untuk bertarung di meja operasi. Karena menurut mereka tidak ada yang terjadi pada diriku ha ha ha. Ternyata mereka salah besar, dulu memang tak begitu nampak sebab aku yang selalu pada posisi tegak, lebih tepatnya ditegak-tegakin aku pun menyadari itu, sebagai salah satu bentuk perlawanan pada tubuhku. Kamuflase yang berbuah rasa sakit.

wpid-img-20160623-wa0012.jpg

“Kejadian besar seperti itu selalu bisa  membuat orang cepat dewasa. Mereka, tidak bisa menghindar, tidak bisa melawan. Mereka hanya bisa memeluk semua kesedihan. Memeluknya erat – erat.”

Begitulah sekiranya yang pernah aku rasakan. Sedih.

Aku memiliki kelainan tulang belakang (skoliosis) dengan kebengkokan terakhir 83 derajat, sebelumnya simpang siur, naik dan turun. Keluar masuk ruang radiologi merupakan hal biasa ketika dokter menyuruhku rontgen. Berbagai salah–benar posisi rontgen juga hal yang sering terjadi hingga berulang kali menjadi ‘model’ di ruang radiologi haha. Jujur untuk pertama kali melihat hasil rontgen mataku basah, sedih rasanya tapi berangsur-angsur bisa menerima apalagi melihat hasil rontgen di atas ini, sempat cengar-cengir seketika, berpikir bahwa aku punya tulang belakang yang meliak–liuk seperti aliran sungai. Unik.

wpid-img-20160623-wa0009.jpg

Foto di atas diambil pertengahan September 2015 lalu. Setelah melalui berbagai proses panjang. Gambar berikutnya adalah foto setelah operasi skoliosis, dimana kini bersemayamnya pen & screw di tulang belakangku. Penjelasannya ialah, setelah di lakukan koreksi derajat pada tulang belakangku berkurang signifikan dari angka awal 83 derajat kini menyisakan 15 derajat.

wpid-img-20160623-wa0006.jpg

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat-Nya. Adapun foto punggung bagian belakang sebelum atau sesudah operasi cuma terlalu vulgar kalau di-share disini hahaha.

Foto selanjutnya adalah berbagai posisi yang ‘dulu’ mungkin terlihat mudah untuk dilakukan. Padahal percayalah pada foto-foto ini (Ade, saya sendiri) berusaha keras beberapa bulan terakhir melalui serangkaian proses panjang yang dilakukan dengan kepenuh hati-hatian serta instruksi dokter untuk melakukan gerakan – gerakan pada gambar tersebut.

  1. Gerakan rukuk sebelah kiri ialah aku, dan sebelah kanan ialah sepupuku (normal, sebagai model). Dari gambar tersebut jelas terlihat perbedaannya antara posisi kanan dan kiri. Sebelum operasi, gerakan rukuk-ku dulu bisa seperti itu 90 derajat, sedangkan setelah operasi, posisi rukuk-ku berubah menjadi seperti di gambar tersebut. Pertama kali mencoba rukuk itu setelah ada instruksi dari dokter, pertengahan April lalu. Awalnya agak ragu, kikuk pula, seakan-akan lupa caranya rukuk haha. Perlahan-lahan mencoba membungkukan badan di ikuti kedua telapak tangan merambat ke sekitar paha bawah lalu berhenti di atas lutut. Ya, hanya sampai situ. Rasanya itu aduhai, gemetar sekali dari tangan, lutut, hingga kaki. Untuk bagian punggung saat di bungkukan rasa awalnya berat dan ngeri-ngeri unyu hahaha.

wpid-img-20160623-wa0000.jpg

2. Untuk gerakan sujud, sebenarnya aku belum ada instruksi dari Dokter. Namun karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya berani eksekusi sendiri. Ceritanya begini, jadi siang itu aku lagi duduk di lantai, entah kenapa seperti mendapat wangsit untuk melakukan gerakan sujud. Sebab itu praktekin sendiri, caranya meniru seperti bayi yang ingin merangkak, setelah itu perlahan – lahan menukik-kan kepala ke lantai, jadilah posisi sujud. Finally sekarang aku bisa gerakan sujud. Untuk bagian yang ini, mohon jangan di tiru yaa!!! Dan gerakan-gerakan lainnya mesti ada instruksi dari dokter dulu. Jangan seperti aku.

3. Posisi duduk melipat kaki sebelah kiri ialah aku, dan sebelah kanan ialah sepupuku (normal, sebagai model). Dalam gambar tersebut aku ingin memaparkan sebelum operasi posisi duduk-ku bisa bungkuk dengan badan condong ke belakang, setelah operasi posisi duduk-ku jadi tegak, itu karena tulang sudah ada yang menopang sebab itulah aku tak bisa seperti gambar sebelah kanan pun dengan membusungkan dada, bukan lagi dada yang membusung tapi bahu yang ketarik haha. Anyway padahal dulu posisi kayak begitu paling enak sekali kalau lagi capek dan ingin melemaskan punggung hahaha.

wpid-img-20160623-wa0003.jpg

4. Posisi duduk selonjoron sebelah kiri ialah aku, dan sebelah kanan ialah sepupuku (normal, sebagai model). Nah untuk yang satu ini mencobanya harus hati hati. Pada awalnya kedua tangan di tempatkan seperti pada gambar sebelah kiri, lalu posisi badan di condongkan kebelakang, disusul pelan–pelan kedua kaki di luruskan, posisi sama tidak bisa 90 derajat, kalau pun bisa akan terasa nyeri di bagian bokong, lutut bagian bawah, sekitar pinggang, dan punggung terasa tertarik aneh deh rasanya. Maka dari itu jangan terbalik yaa kalau mau mencobanya.

wpid-img-20160623-wa0007.jpg

5. Untuk gambar yang satu ini, bukan bermaksud apa–apa. Dalam gambar tersebut aku mencoba mengetatkan pakaian-ku, dimana bentuk punggung yang sekarang seperti kempes, punuk/tonjolan besar yang dulu berada di punggung sebelah kanan kini sudah tidak terlihat seperti dulu. MashaAllah, luar biasa. Kadang tidak habis pikir, saat operasi berlangsung punuknya diapain sama dokter sehingga setelah Operasi jadi begini. Dokter hebat sebagai perantara-Nya.

wpid-img-20160623-wa0008.jpg

6. Terakhir, untuk gambar ini adalah posisiku ketika berdiri tegak menghadap posisi depan dan belakang. Banyak yang bilang aku tinggi banget, nyatanya memang begitu. Sampai kalau ada anak kecil yang melihat ke arahku seperti sedang melihat tiang listrik, mendongak. Hahaha, kadang ya gimana gitu, tapi ya memang adanya begitu. Sebelum Operasi tinggiku 165 cm dan setelah operasi tinggiku bertambah sekitar 6 cm menjadi 171 cm. Tinggi semampai bagai model hihihi.

wpid-img-20160623-wa0015.jpg

***********

Begitulah sedikit pemaparanku tentang perbedaan sebelum dan setelah dilakukannya operasi.Kalau ada yang bertanya ‘Lebih nyaman mana sebelum atau sesudah operasi?’ Hmm, bagiku ini pertanyaan yang sulit, tidak fair. Membandingkan dulu atau sekarang menurutku sikap belum berdamai dengan masa lalu, dengan yang pernah ada, dengan tulang belakang yang bengkok, dengan posisi tubuh yang condong ke satu arah, dengan bahu yang tinggi sebelah, dengan punggung yang mempunyai punuk besar dan lain-lain-nya. Disini akan ku jelaskan secara kacamata pribadi.

Menurutku,  dulu atau sekarang. Sebelum atau sesudahnya ada titanium yang bersemayam, ‘mereka’ memiliki kenyamanannya tersendiri, ibaratnya sudah ada porsinya masing – masing. Tidak fair bilamana aku menyatakan dengan titan, aku lebih nyaman, padahal ia baru ada sejak awal tahun lalu. Sedangkan, aku dengan pemberian-Nya sudah bertahun – tahun silam.

Jadi, intinya bagaimana kita dapat mensyukuri dan menyikapinya. Bagiku, selagi kita sudah berdamai dengan masalalu inshaAllah semua akan terasa nyaman–nyaman saja pun bagaimana bentuknya kini :)).

Allah menciptakan manusia sempurna dengan ketidaksempurnaanya.”

Sebelum mengakhiri tulisan ini aku mau berpesan bahwa apapun bentuknya sebelum atau sesudah operasi, kecil atau besar sisa derajatnya, aku dan yang lainnya tetaplah seorang skolioser, bertulang belakang bengkok. Operasi bukan sekadar sarana meluruskan tulang belakang yang bengkok, namun lebih untuk mengkoreksi tulang yang bengkok agar tidak mengganggu organ lain. So, apapun usaha yang telah dilakukan percayalah waktu akan menjawabnya cepat atau lambat. Sekali skoliosis selamanya tetap skoliosis. Keep Strong!!

Terakhir, tak henti-hentinya kuucapkan rasa syukur tiada tara kepada sang Pencipta, rasa terimakasih tak terhingga yang telah memberikan hadiah terindah di luar ekspektasiku, semoga dengan ini aku bisa menjaga pemberian-Nya lebih baik lagi. Terimakasih pula kepada kedua orang tuaku yang dengan sabar merawatku hingga kini, saudara, teman – teman MSI (Masyarakat Skoliosis Indonesia) juga yang tak bisa kusebutkan satu – persatu. Serta terimakasih kepada pihak RUSP Fatmawati , Jakarta. Telah memberikan pelayanan terbaiknya. Untuk Dokter Didik Librianto sp.OT (K-Spine), Dokter Fachrizal sp.OT (K), Dokter Ridho, Dokter Ivan, Dokter Rico, Dokter Feni, Dokter Ronald, Dokter Ainun, suster Dian, Pak Didi, Mas Yoga serta yang lainnya yang telah membantu mewujudkan. Terimakasih banyak. Tanpa semuanya mimpi ini tak akan pernah terealisasikan :’))

Untuk kalian yang sudah mau-maunya menyempatkan membaca tulisan ala kadarnya ini. Terimakasih. Semoga dapat bermanfaat, maafkan bilamana kata-kata saya ada yang tak berkenan bukan maksud menggurui, semata-mata tulisan ini saya buat untuk ‘mengenang masa-masa bersamanya.

**********

*Cerita Ade sebelumnya bisa dilihat di sini.

Disclaimer:

*Pemulihan pasca operasi bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Tidak disarankan untuk mengikuti keseluruhan gerakan dalam tulisan ini tanpa mengikuti dokter. Silakan berkonsultasi mengenai gerakan-gerakan dan posisi tubuh pasca operasi kepada dokter Anda.