wpid-img-20151127-wa0009.jpg

Hai, aku Reni. Cerita ini aku buat saat hari ulang tahunku yang ke-23 yaitu tanggal 5 Juni 2016 dan bertepatan dengan bulan sadar skoliosis.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kisah skoliosisku. Karena aku terlalu cuek dan tidak mau ambil pusing dengan kelainan tulang belakang yang aku alami sejak umur 21 tahun. Aku lupa bahkan tidak mau tahu berapa derajat lengkungan tulang punggungku sekarang. Yang pasti masih dibawah 30 derajat. Entahlah aku tidak tahu pasti tulangku membengkok sejak kapan.

Namun, seingatku mulai terasa sakit ketika selesai melakukan kegiatan kampus, yang kebetulan saat itu menjadi koordinator bazar. 2 tahun berturut-turut menjadi koordinator, mengangkat barang-barang berat sudah menjadi hobi. Pegal-pegal setelah kegiatan selesai hanya aku atasi dengan pergi ke tukang pijat. Saat itu memang tidak pernah menyangka sama sekali akan diberikan anugerah yang luar biasa dari Allah Swt yaitu skoliosis. Buatku itu anugerah, karena dengan kelainan itu aku bisa membuktikan bahwa kekuatan mentalku ternyata di atas rata-rata.

Setelah sakit punggung menjadi kronis, aku berobat ke poliklinik kampus. Awalnya hanya di diagnosa gangguan saraf. Namun, sakitnya semakin parah sampai sudah 3 kali periksa akhirnya dirujuk untuk melakukan rontgen. Daaan akhirnya petualangan baru dimulai.

Bulan Mei 2014, populasi skolioser di dunia bertambah dengan kehadiranku sebagai anggota baru. Saat itu aku langsung melakukan fisioterapi di speasialis rehabilitasi medik. Terapi yang disarankan adalah exercise theraphy, heating theraphy dan electrical stimulations theraphy. Kalau skolioser yang lain ketika terapi ditemani orang-orang tersayang, lain cerita dengan terapiku. Setahun lebih melakukan terapi selalu sendiri. Bahkan saat itu aku tidak memberitahu orang tuaku tentang tulang punggungku. Karena aku tipe orang yang selalu memendam dan menyelesaikan masalah sendirian dan enggan menjadi beban orang lain. Dan aku berhasil memberitahu orang tuaku setelah punggungku sudah tidak terasa sakit lagi.

Aku menikmati masa-masa kesendirian ketika menjalani terapi, yang terkadang membuatku harus bolos kuliah. Aku mengumpulkan biaya terapi dari sisa-sisa uang jajan bulananku. Pokoknya aku bertekad harus mengatasinya sendiri dengan meminimalisir biaya terapi semurah mungkin dengan berbagai cara, salah satunya dengan kartu BPJS.

Juni 2014, saat itu baru sebulan resmi menjadi skolioser. Dulu aku masih tidak bisa menerima kenyataan dan sering mengutuk dalam hati teman-teman yang tidak mau mengerti kelemahanku hehe, masih mellow, dan sering mencari perhatian orang-orang sekitar. Buatku, bulan ini menjadi bulan terberat karena baru saja mendapat diagnosa skoliosis, aku harus pergi ke sebuah tempat yang jauh dari rumah sakit dan keramaian, melakukan tugas KKN dari kampus.

Bulan dan tahun ini menjadi waktu yang sulit untukku. Dari semua moment entah kenapa pertemuan dengan teman-teman baru waktu itu, saat tubuhku sedang dalam level terlemah, dan pikiran terkacau. Prasangka buruk pun datang. Namun semua prasangka itu ternyata salah. Tidak ada rekan yang antagonis. Mereka menjadi keluarga yang ramah saat tinggal bersama selama 40 hari.

Selama 40 hari sama sekali tidak melakukan terapi. Jangankan pergi ke tempat fisioterapi, pergi ke pasar saja harus menempuh jalan yang berbatu dan gersang. Bahkan pernah jatuh dari motor akibat jalanan disana sangat rusak. Tulang punggung yang sedang sakit lalu terbentur itu rasanyaaaa…. ah sulit dijelaskan. Disana hanya ada tukang pijat, tapi aku kapok. Terakhir pergi ke tukang pijat, sakit dan kesemutanku semakin memburuk.

Beruntung, wajahku yang tanpa ekspresi kadang bisa menyembunyikan segala rasa sakit itu di hadapan teman yang lainnya. Karena tidak bisa terapi ketika sedang sibuk KKN, aku sering melakukan hal konyol yang tidak perlu ditiru oleh skolioser yang lainnya. Setiap pagi aku berjemur dibawah sinar matahari agar punggungku terasa hangat. Dan ketika malam tiba, menjelang tidur aku menyalakan setrika lalu aku tempelkan benda itu dipunggung. Lagi-lagi agar punggungku terasa hangat. Anggap saja itu pengganti heating theraphy hehe.

Sesekali akupun meminum meloxicam, dexamethasone dan paracetamol yang diresepkan dokter. Setiap malam akupun menjadi “ratu koyo”, seluruh punggung dan tangan kanan ditempeli koyo sampai kulit sekitar punggung iritasi.

Alhamdulillah bulan terberat ini dapat terlewati dengan santai, walau aku sering mencuri-curi kesempatan untuk menyendiri dan sedikit meneteskan air mata. Kamar dan kolam ikan depan rumah adalah tempat favorit untuk menyendiri saat itu. karena bagaimanapun, bagiku menyendiri adalah sebuah kebutuhan. Ya, karena tidak mungkin melakukan gerakan William flexion exercise yang disarankan dokter di depan teman-teman.

Karena Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang pengertian saat sedang menjalani KKN, maka semuanya ku jalani tanpa beban.

wpid-img_20140828_121615.jpg

Foto saat KKN

Setelah melewati masa KKN, rasanya aku tidak pernah menemukan kesulitan lagi dengan apapun yang berkaitan dengan skoliosis. Meskipun ternyata ada beberapa orang yang mendadak meninggalkanku setelah tahu kekurangan ini, namun semua kegiatan di kampus aku jalani dengan santai tanpa mengabaikan jadwal terapi dan berenang.

Sekarang tahun 2016, aku sudah lulus kuliah dan sudah setahun bekerja di sebuah homeschooling Islam. Disini tidak hanya sekedar mengajar saja, setiap ada kesempatan akupun melakukan edukasi terkait skoliosis terhadap murid-muridku. Karena terkadang, ketidaktahuanlah yang menyebabkan kita lalai dan menyepelekan rasa sakit. Meskipun punggungku tidak kembali lurus, aku menjalani hidup seperti manusia normal lainnya. Ajaibnya, sudah jarang sekali aku merasakan sakit dan sesak napas lagi. Aku berhenti terapi rutin dan hanya sesekali berenang untuk menguatkan jantung serta paru-paru saja. Gerakan William Flexion Exercise juga masih aku lakukan.

Kunci agar kita menikmati anugerah dari Tuhan ini adalah memaafkan diri sendiri dan menerima dengan ikhlas tanpa berhenti berjuang. Semoga dengan seizin Allah, tubuh ini menjadi kebal dari rasa sakit.

wpid-img-20151127-wa0009.jpg

Foto saat mengajar homeschooling

Foto saat mengajar homeschooling