img_4783

Berikut adalah sedikit wawancara singkat dengan Dyshelly, seorang skolioser asal Bandung yang saat ini sedang menempuh kuliah master di Jepang. Wawancara dilakukan via email oleh Yulia yang pernah kopi darat dengan Dyshell pertama kalinya di Bandung pada tahun 2011 dan kemudian 2013.

———————————————————————

  1. Sejak kapan kira-kira ketahuan ada skoliosis dan apa yang Dyshell lakukan waktu tahu punya skoliosis?

I was diagnosed with scoliosis when I was…12 or 13 year old, I think. Waktu itu aku lagi pakai seragam dan ayahku merasa ada sesuatu yang salah dengan punggungku. Later I found, kalau tante, adik ayah, juga scoliosis jadi mungkin ayah familiar sama feature pada skolioser. Singkat cerita ya akhirnya ketahuan, waktu itu skoliosis kurva C, mungkin derajatnya sekitar 20an. Waktu SMP, I didn’t take it too serious. Tapi ketika SMA aku mulai merasa, “wah, kok, nggak nyaman ya?”.

Aku mulai sering ngerasa sakit dan kekuatan fisik aku menurun. Aku nggak bisa lari, nggak bisa terlalu capek. Aku sering ngaca, terus mikir, “Wah, miring ya.” Selama SMA, kayaknya aku anaknya nggak terlalu pede. Apalagi ngelihat temen satu kelas yang skoliosis juga, dan pakai brace, dan dia cerita dia ngerasa nggak nyaman.

I know, I could’t handle it better kalau pakai brace pun. Jadi aku bertekad, oke, harus sehat supaya nggak usah pakai brace. Usaha yang aku lakukan selama SMA, renang dan senam. Aku juga ngurangin nulis dengan posisi miring. Berusaha jaga postur meski pun susah banget soalnya aku anaknya serampangan. Alhamdulillah sampai lulus SMA nggak ada hambatan. Sampai sekarang pun, kalau ada masalah aku selalu berusaha cari cara terbaik to deal with my scoliosis.

  1. Dyshell kan suka berkegiatan, baik kuliah atau ketika ada tugas lapangan, nah dengan adanya skoliosis apakah merasa ada hambatan?

Singkat cerita, ternyata ujian terbesar justru pas kuliah. Mulai dari mata kuliah kesehatan jasmani which was ada test lari, belum lagi kenyataan bahwa aku anak jurusan Biologi mengharuskan aku kuliah lapangan alias praktikum di alam bebas setidaknya 2-3 kali per semester untuk mata kuliah yang berbeda.

Aku pernah ke Pangandaran, Tangkuban Perahu, Bali, Kepulauan Seribu, Karimun Jawa, Taman Nasional Meru Betiri di Jember, Gunung Papandayan, dsb yang tentu butuh ketahanan fisik dan persiapan yang pol-polan. Hambatannya, ya di fisik itu tadi. Paling parah sebenernya waktu ke Meru Betiri. Medannya yang keras dan hutan tak terjamah yang mesti ditembus dengan naik truk, empat jam, berdiri, sukses bikin derajat scoliosis aku naik (setelah kuperiksa ternyata kurvaku jadi kurva S, jadi sekitar 18 derajat di atas, 30 derajat di bawah).

Kalau dibayangin, mungkin ngapain juga aku berlelah-lelah, bisa aja kali ya aku minta dispensasi. Tapi motivasiku tiap jalanin kuliah lapangan adalah, aku ingin menguji dan membuktikan ketahanan fisik aku sendiri. Aku anaknya memang suka jalan-jalan, suka ke lapangan, suka sama alam. Aku doyan banget snorkeling, hiking, liat pantai, liat awan dari puncak gunung. Kayaknya yang kayak gitu tuh, pencapaian yang berarti banget buat aku. Aku jadi termotivasi , kalau ingin ngelakuin apa yang memang ingin aku lakuin, aku harus sehat, harus jaga kondisi, harus punya niat dan kemauan kuat. Alhamdulillah, sejauh ini, semua yang aku ingin, atau semua yang jadi kewajiban aku selama kuliah, terselesaikan dengan baik karena latihan fisik, kemauan yang keras, plus dukungan dari teman-teman.

Oh ya, satu hal, aku nggak pernah nyembunyiin kondisi fisik aku. Aku selalu open dan speak out kalau aku skoliosis di depan teman-teman, bahkan ke orang yang ‘berusaha mendekat’. Prinsipku, if they accept you just the way you are, they will stay. Those who leave just can’t see your beauty, or just take you for granted. Sahabatku semua tahu aku skolioser, dan mereka supportif banget. Mereka doyan banget ngingetin, fisioterapi, jangan kecapekan, jangan bawa tas berat, sikap tubuh yang bener dan lain-lain. Sementara berdasarkan pengalaman, ada juga cowok yang mendekat, begitu tahu aku skoliosis, dia kabur. Sebaliknya ada juga yang setelah tahu aku scoliosis, malah makin nunjukkin kalau dia perduli. Nah, kalau gitu, udah tahu kan ya, setiap penerimaan orang itu beda-beda. Saranku, santai ada ngadepinnya, jangan malah jadi down. Justru ini ajang untuk nunjukin bahwa nggak ada yang namanya imperfection kalau soal kondisi fisik. Semua orang diciptakan spesial. Santai, karena semuanya sudah diatur Tuhan.

  1. Waktu mendapat beasiswa apa yang ingin Dyshell raih dan apakah waktu itu sempat muncul kekhawatiran skoliosis akan kambuh lagi di tempat yang jauh dari rumah?

Oh ya, tahun 2015 aku dapat beasiswa dari LPDP untuk lanjut studi master di Jepang. Sebelum berangkat, aku sempat beberapa kali fisioterapi dan dateng ke chiropractic (kayaknya sejak dari 2014 aku udah siap-siap). Prinsipnya, kalau mau berangkat, mesti ‘sembuh’ dulu supaya nanti di Jepang nggak susah. Sebenernya khawatir sih nggak, karena aku optimis kalau ‘kambuh’, aku bisa tanganin sendiri dengan yoga, cari tempat terapi, ke dokter, atau simply tidur di tempat datar (ini cara udah paling manjur buat aku kalau sakit punggung). Cuma orangtua, terutama Ibu, ya jelas khawatir makanya sebelum berangkat suka nemenin terapi. Khawatirnya karena hidup sendiri itu kadang bikin kita lupa kondisi. Takutnya aku skip terus tahu-tahu kondisinya jadi parah kan siapa yang mau jaga. Alhamdulillah Allah yang jaga, sampai saat ini aku sehat walafiat.

img_0704

winter ski di Spring Valley, Izumi, Sendai

Selama di Jepang aku malah bandel. Fyi, aku ini memang tergolong skolioser yang bandel lah, sebut aja. Aku nggak membatasi diri aku sendiri terutama untuk melakukan hal yang aku suka. Dulu memang aku nggak bisa lari. Tapi selama di Jepang, bahkan terakhir kali di Bandung, sebelum berangkat, aku udah lari lagi. Terus summer tahun lalu, aku bahkan mendaki sampai puncak Gunung Fuji! That was one of my biggest achievements selama di Jepang. Bahkan orang Jepang aja belum tentu sanggup dan mau naik Gunung Fuji. Menurut segelintir orang, Gunung Fuji itu bagusnya dilihat dari kejauhan, bukan untuk didaki. Tapi bagi aku, ‘kenalan’ sama Gunung Fuji dari dekat, sampai menikmati sunrise di puncaknya udah bikin happy banget.

Kalau ditanya, kok kuat? Selain karena persiapan fisik dua bulan sebelumnya, intinya karena keinginan yang kuat dan prinsip ‘hajar aja, kapan lagi!’. Hehehe.

 

  1. Apa harapan atau cita-cita yg ingin dicapai terkait skoliosis atau kegiatan Dyshell saat ini di Jepang?

Sebelum ke Jepang, aku ini suka banget volunteering di kegiatan social. Jujur, setelah pindah ke Jepang, fokusku untuk volunteering jadi kurang dan nggak banyak tersalurkan karena aku lebih fokus sama studiku dan kehidupan sosialku di sini. However, teman-temanku tahu kok aku skoliosis dan mereka, again, super supportive. Beberapa juga bahkan suka tanya aku tentang skoliosis dan minta aku bantu mereka untuk pengecekan awal apakah mereka juga skoliosis atau nggak. Beberapa juga ada yang curhat, entah itu langsung, atau via blog. Menanggapi itu, aku selalu berusaha kasih semangat dan dengerin cerita mereka.

Aku suka iri sama temen-temen di Bandung terutama, yang ada kegiatan volunteer ini dan itu. Aku orangnya nggak bisa diam. Rasanya jadi kangen. Inginnya sih banyakin kegiatan volunteering lagi. So far di sini aku ikut volunteering untuk jadi duta pariwisata Miyagi Prefektur (Okt 2015- Mar 2016), duta pariwisata Tohoku Area ( Jun 2016 – Mar 2017), usaha recovery beberapa area pasca Tsunami 2011, dan beberapa kegiatan international student.

Setelah balik ke Indonesia, kayaknya pengen aktif lagi di dunia volunteering, termasuk kumpul dan sharing-sharing sama skolioser dan bikin kegiatan untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap skoliosis. Mungkin kalau soal pengobatan atau terapi scoliosis aku bukan orang terdepan yang paling luas pengetahuannya. Tapi untuk soal, how do deal with it in our daily life, dan gimana cara tetap ‘baik-baik’ aja tanpa harus down dan kehilangan self-esteeem, aku harap aku bisa kasih teman-teman banyak insight baru.

Tapi untuk sekarang maunya fokus beresin studi dulu. Semester terakhir ujiannya banyak yah, hehe. InsyaAllah bisa, mohon doanya.

img_0050

Tohoku University

  1. Apa pesan-pesan untuk kawan skolioser lain?

Skoliosis bukan hambatan, justru skoliosis membantu kita untuk menjadi orang yang lebih kuat. Kita skolioser bisa menjalani hidup sehari-hari seperti biasa. Kita bisa melakukan hal yang kita suka, bisa berbaur dengan lingkungan social, bisa berkarya, bisa berprestasi. Bener-bener nggak ada bedanya. Kita spesial, Tuhan beri kita sesuatu yang spesial, yang harus kita terima dengan sabar dan syukur, yang justru membuat kita melihat dunia dan sekitarnya lebih tulus.

Jadi, tetap semangat! Skoliosis bukan alasan kehilangan kepercayaan diri apalagi low self-esteem. Justru skoliosis menjadi media untuk membuktikan bahwa, there’s no physical imperfection, everyone was born to be unique and special. Tetap jaga kesehatan dan ketahanan fisik, jadikan itu sebagai nilai plus. Jangan ragu untuk berkarya, berekspresi, dan berbagi. Jangan lupa untuk saling menyemangati!

img_3275

spring di Shinjuku, Tokyo

****************

Terima kasih Dyshelly atas ceritanya, semoga sukses selalu dan ilmunya bermanfaat. Aamiin.

Kontak Dyshelly jika ingin bertanya lebih lanjut:

Email: dyshelly.nurkartika@gmail.com

Tumblr: dyshelldyshell.tumblr.com