Alhamdulillah sejauh ini ternyata lebih banyak yang suka baca cerita saya dibanding tulisan skripsi saya, huhu. 4 tahun lebih sedikit gak apa-apa ya, karena ini bukan hanya bicara kuantitas tapi kualitas. Hehehe… kok jadi ngelantur kesana?

Saya mau bertanya, kalau ada yang bilang, maaf saya skoliosis atau mama bilang itu loh si riri sakit skoliosis, bagaimana tanggapan anda sebagai orang awam? bingung, senang, atau sumringah

Ini beberapa yang saya alami…
– Hah? Lordosis? Bongkok ya?
– Sakit apa tuh? nular gak?
– Oh kurang minum susu ya? kecil-kecil kok keropos?
– Tulang bengkok? (Wajah gak percaya, badan meliuk-liuk ngebayangin bentuk tulang jadi huruf “S”)

YEKALI…… kata anak gaul sekarang.
Ya itu beberapa yang saya alami, saya hampir kebingungan karena harus menjawab berbagai pertanyaan, seperti apa sebabnya? Padahal saya sudah jelaskan bahwa sebagian besar kasus skoliosis adalah berjenis idiopatik selain karena skoliosis yang karena keturunan atau traumatik (Jatuh, faktor eksternal yang lain), berasal dari kata idiot, yang berarti belum diketahui penyebabnya.

Logikanya begini, kalau karena kurang minum susu atau terjatuh atau salah duduk, bandingkan saya dengan kedua teman saya yang di operasi di bulan yang sama dan berjenis skoliosis idiopatik juga.
Saya (RIRI = R) Umur 18 Tahun, Kurva 70 Derajat.
Teman 1 A, Umur 18 Tahun, Kurva 80 Derajat.
Teman 2 B, Umur 10 Tahun Kurva 115 Derajat (Kalau tidak salah saya lupa 105, 115 atau 120).
Kalau karena kebiasaan yang salah, bagaimana anak yang baru 10 tahun hidup derajat kemiringannya lebih parah dari saya yang sudah salto jungkir balik, jatoh dari sepeda, motor, kecelakaan mobil, dan lain-lain?

Jadi, sampai saat ini, yang paling saya yakini adalah bahwa skoliosis ini sudah ada sejak lahir, dan ini anugrah serta keajaiban dari Allah tuhan semesta alam. Kenapa? karena keberlanjutan bersyukurnya dan berjuangnya saya akan hidup karena ada skoliosis dan titanium yang menemani hidup saya.

MASA SMA
Setelah lulus dari SMP dengan rata-rata nilai yang baik, dan piagam penghargaan yang lumayan banyak. Saya berharap bisa masuk SMA Negeri unggulan. Setelah berdiskusi panjang akhirnya orang tua saya dan saya memutuskan saya akan keluar dari pesantren dan sekolah di Tangerang agar dapat melanjutkan pengobatan dan lebih dekat untuk dijaga serta diawasi. Ada 3 SMA Negri yang saya pilih saat tes masuk, namun karena berdasarkan NEM, dan saya hanya dapat jatah kursi 5% karena berasal dari luar daerah, saya tidak masuk SMA Negeri pilihan saya. Sedih dan malu sih karena kedua sepupu saya masuk SMA Negeri bergengsi di Tangerang. Tapi apa yang jadi landasan orang tua saya membuat saya santai saja masuk SMA Swasta, di SMA Islamic Centre Tangerang. Mereka bilang,”Sekolah dimana saja sama, tinggal bagaimana kamu, mau jadi orang besar dari sekolah kecil atau jadi orang kecil di sekolah besar, LEBIH BAIK KECIL TAPI DIPERHITUNGKAN, DARIPADA BESAR TAPI KALAH DALAM PERHITUNGAN. Papa juga sekolah di sekolah Muhammadiyyah sekolah biasa saja tapi papa bangga.”

Akhirnya saat ospek saat ditanya kenapa mau masuk ISCEN yang sekolah biasa saja (sebutan sekolah saya), saya dengan lantang menjawab, kenapa bukan saya yang menjadikannya sekolah besar?

Masa SMA, seperti kata banyak lagu menyenangkan memang, saya kenalan dengan banyak teman, aktif di banyak kegiatan jadi pengurus osis, membuat banyak gebrakan (inisiator membuat pensi besar, inisiator membuat BTS, inisiator membuat KIR, inisiator membuat klub bahasa, jurnalistik dan teater, dll). Saya kenal hampir semua guru, saya senang sekali karena disini kami seperti keluarga, sekolah jadi lebih menyenangkan. Dan cita-cita saya menumbuhkan prestasi tidak berhenti, alhamdulillah saya terpilih mengikuti lomba cerdas cermat undang-undang dasar 1945 di tingkat regional dan maju ke nasional, bersama teman-teman yang lain kaya Dita Marsela Sufitri, Priadinata Galuh, Lovina Kolopaking II, Andy Wahyu Hidayat, Nailul Izzah dll yang maaf gak bisa disebut satu-satu. Pembimbingnya bu Yusea Kamarullah, bu irna sama bu farida, Dan saya ikut lomba ini 3 tahun berturut-turut. Di SMA agak lebih mudah walaupun saya tidak pernah ikut kegiatan olahraga, pramuka, dan paskibra, semua teman-teman dan guru sangat memahami saya.

Namun yang lebih berat adalah di rumah, karena sebagai orang tua mama dan papa punya kekhawatiran yang berlebih melihat keadaan saya yang bertulang bengkok. Perbedaan antara bahu kanan-kiri, tangan kanan-kiri, kaki kanan-kiri, payudara kanan-kiri semakin terlihat. Sebagai orangtua mereka khawatir terhadap kondisi kesehatan saya yang sering sakit dan estetika saya sebagai perempuan yang tumbuh besar. Bagaimana perasaan anda ketika melihat anak yang seolah dicap cacat? Pasti terbersit pikiran,”nanti anakku diterima kerja gak yah? atau yang ekstrim, dia laku gak ya dapet jodoh?” Hehehe… tapi maklum semua kekhawatiran itu karena mereka sayang.

Namun saya agak risih karena merasa membebani ketika papa dan mama atau saudara yang lain menawarkan segala pengobatan, Mulai dari bekam, urut, lintah, alat terapi batu giok, bra pengencang, sampai kasur yang menarik-natik badan. dan semua itu gak murah! Dan setiap saya harus pakai kasur yang ditarik-tarik itu, saya pasti berdebat sama mama atau menangis, karena rasanya sakit dan pegaaaaal dan juga malu sekali. Semua kakak dan saudara membujuk saya dengan berbagai cara dari yang halus sampai agak memaksa. Setelah dipakaikan dan ditinggal sendiri (karena saya malu sekali kalau diliatin orang, dan mama biasanya cerita ke semua orang atau teman yang main ke rumah, seakan saya model TV shopping itu, hehe) biasanya saya menangis sambil menghitung 15 menit yang terasa lama.

Terapi yang lain, dokter menyarankan saya untuk olahraga berenang, padahal saya gak bisa berenang dan takut air. Jadilah saya menolak terapi lewat berenang.

Selebihnya kehidupan saya normal-normal saja di SMA saya gak pernah menjadikan skoliosis sebagai alasan untuk gak PD. Saya malah aktif juga bersosialisasi di luar, saya suka kenalan dengan banyak orang, lewat chatting bahkan saya suka ikut kopdar juga. Jadilah teman saya dimana-mana. Salah satu temen SMA yang masih sering ketemu itu si neng Vidi Aprilla Nurpriesty dia support aku terus sampai sekarang, makasih ya neng. Pacar? ada dong, dan aku selalu jujur kok sama pacar-pacar terdahulu, tapi ya namanya juga pacaran masih ingusan ya udah jadi temen semua kalau sekarang.

Apalagi? lanjut cerita pas akan operasi yaa…