Berikut adalah tulisan mengenai skoliosis dan kehamilan yang dikirimkan oleh Mbak Yustika di Bandung. Ia adalah skolioser yang bertindak sebagai penyelaras aksara dari buku “Pantang padam: catatan skolioser”.

Yuk, simak ceritanya!

^^^^^^^^^^^^^

Hai. Perkenalkan nama saya Yustika. Ibu dari dua anak: Hanif (6 tahun) dan Abimanyu (2,5 tahun). Bicara soal skoliosis dan kehamilan, keduanya tak pernah menjadi teman, apalagi sahabat, hehehe. Saya divonis menyandang skoliosis ketika Hanif berusia 2 tahun. Jadi, ketika hamil untuk pertama kalinya saya benar-benar awam soal skoliosis. Meskipun kalau diingat-ingat lagi ke belakang, rasa pegal di punggung sudah sering saya rasakan sejak akhir SMA. Jadi bukan berarti skoliosis ini ada begitu saja, bisa jadi awal mulanya sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Saya tak pernah mengira kalau pegal itu sebenarnya adalah indikasi sesuatu yang lebih serius, saya pikir hanya pegal kecapekan biasa.

(more…)

wpid-20140527_185840.jpg

“Yakin dengan brace-mu, rajin renang, dan jangan percaya kalau ada yang bilang orang yang skoliosis tak bisa hamil.”

Begitu pesan dokter kepada admin sekitar 3 tahun lalu. Kata terakhirnya tertancap dengan kuat dan melegakan perasaan. Yup, jangan percaya kalau ada yang bilang skolioser tak bisa hamil!

Ada banyak skolioser yang sudah merasakan sendiri sebuah anugrah dan rizki yang diberikan Allah SWT ini, yaitu nikmat menjadi perempuan yang sedang mengandung. Meski begitu tak jarang admin mendengar atau membaca sendiri mengenai komentar beberapa skolioser yang belum menikah atau bahkan belum memiliki anak dan merasakan kekhawatiran akan pengaruh skoliosis terhadap kehamilan.

Untuk itu, admin akan memuat beberapa testimoni atau cerita-cerita dari para skolioser yang sudah mengalami masa-masa menyenangkan menjadi seorang ibu.

wpid-20140527_185840.jpg

 

(more…)

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.