Backpacker merupakan istilah yang digunakan para traveler ketika menjelajah tempat-tempat eksotik dengan budget minimum.

Hmmm, mungkin definisi ini kurang cocok untuk menamai perjalanan wisata saya ke Sabang beberapa waktu lalu. Budget yang dikeluarkan tidak minim banget tapi saya dan lima kawan lain gak pake travel agent untuk memandu kami wisata. Semuanya dijalanin by hayuk-aja. Boleh ya kalo perjalanan ini saya sebut backpaker?

Sabang merupakan kota terujung di barat Indonesia. Letaknya ada di utara Pulau Sumatera. Dari kota ini, jarak Indonesia diukur. Itulah mengapa titik 0 km dimulai dari sini.

Bertolak dari Jakarta, saya bersama lima orang lainnya naik pesawat menuju Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Untuk para skoliofighter seperti saya, duduk 3 jam sangat tidak nyaman. Jadi, sesekali saya jalan ke toilet pesawat sekadar meluruskan punggung dan melakukan gerakan ringan. It works loh. Senam-senam kecil untuk meregangkan otot yang tegang

Setelah melewati 3 jam di udara, kami pun tiba di Aceh. Pesawat mendarat dengan lancar dan aman. Agar petualangan berjalan optimal, kami memutuskan untuk mengisi energi terlebih dahulu. Tanpa berpikir panjang, kami segera menuju tempat makan yang berada tidak jauh dari bandara. Tempat makan ini terlihat sederhana, tapi punya cita rasa masakan yang luar biasa. Saya tidak tahu persis lokasinya, saya hanya ingat ada pohon asem yang berdiri di depannya. Usut punya usut, orang-orang menyebutnya tempat ini dengan nama restoran ayam tangkap. Saya rekomendasikan buat pembaca kurva untuk makan di tempat ini jika berkesempatan pergi ke Aceh.

Perut kami sudah terisi penuh sampai membuat kami tidak bisa bergerak karena kekenyangan. Perpaduan masakan yang lezat dan perut yang lapar sungguh membuat kami khilaf. Kami pun mulai mengatur nafas supaya bisa melanjutkan. Beberapa menit kemudian, kondisi perut sudah tidak terlalu kekenyangan. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Ulee Lheu.

Kami berencana naik kapal cepat demi menghemat waktu. Sayangnya, rencana tersebut tidak bisa terlaksana. Kami terpaksa naik kapal ferry karena kapal cepat tidak bisa beroperasi hari ini. Ombak terlalu besar sehingga hanya bisa diarungi oleh kapal besar. Akhirnya kami memutuakan untuk membeli tiket kapal ferry seharga Rp 25 ribu/orang untuk satu kali perjalanan. Demi bisa mencapai Sabang.

image

Sayangnya, kapal sangat kotor. Banyak orang yang membuang sisa makanannya sembarangan. Saya sendiri tidak nyaman melihat sampah berserakan. Tempat duduk yang ada juga tidak sebanding dengan banyaknya penumpang sehingga banyak orang yang duduk di lantai. Harus cari cara supaya perjalanan selama 2 jam terasa menyenangkan.

Saat kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, saya memutuskan untuk pergi ke dek kapal agar melihat langit biru dan lautsan lepas. Ini kali pertama sama melihat Samudera Hindia, luas, biru, dan ganas. Mempesona sekaligus menakutkan. Ombak sangat besar sehingga kapal bergoyang cukup keras. Pecah menabrak badan kapal.

Sesekali, saya duduk kemudian berdiri lagi. Selain untuk membunuh bosan, kombinasi duduk dan berdiri dilakukan supaya punggung tidak terasa kaku. Tidak lama kemudian, daratan mulai terlihat menandakan kalau kami segera menginjakkan kaki di tanah Sabang. Yup! Sekitar 2 jam. Here we go! Kami pun tiba di pelabuhan Balohan pada pukul 19.00.

Karena sudah malam dan hari hujan, kami memutuskan untuk mencari tempat penginapan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Sabang ternyata kota yang kecil, belum dikelola sebagai kota tujuan wisata. Tidak ada hotel mewah dan megah, yang ada hanya homestay ataupun kamar hotel sederhana. Hanya sedikit sekali penginapan untuk menampung wisatwan. Apesnya, kami lupa bahwa kedatangan kami bertepatan dengan libur panjang sehingga semua penginapan nyaris penuh. Pencarian kami pun menemukan hasil. Kami menemukan home stay terpencil yang bisa kami tempati ,walau hanya 1 kamar. Karena saya perempuan sendirian, 4 orang yang lain minta izin kepada pemilik hotel untuk tidur di ruang tamu. Lumayan, sambil menunggu pagi datang.

Taraaat! Ini dia, hari yang saya nantikan. Sesuai jadwal, pagi ini kami akan menuntaskan niat kami ke Titik 0 Kilometer. “Gak afdol kalau datang jauh ke Aceh tapi tidak ke Titik 0 Kilometer,” begitu kesepakatannya.

Kami sewa sebuah mobil Kijang tua untuk membawa kami ke Titik 0 Kilometer. Mobil tua terasa sangat prima. Melaju mantap tidak kalah dengan performa mobil mahal. Terasa bahwa mobil ini diurus dengan benar. Jalan menuju Titik 0 Kilometer sangat berliku dan menanjak, tapi mobil kami sanggup melewatinya dengan lancar berkat skill supir yang sudah terbiasa ke Titik 0 Kilometer.

Dengan cekatan, dia bawa kami ke dalam petualangan seru menuju tujuan. Kami memutuskan untuk membuka kaca, menghirup segarnya udara, menikmati angin Sabang yang menyenangkan. Kiri-kanan jalan hanya hutan hijau dan sekawanan monyet yang turun ke jalan.

Karena asyik menikmati perjalanan, tidak terasa kami sudah sampai ke pintu gerbang Titik 0 Kilometer. Tempatnya seperti Puncak Pas. Ada monumen 0 Kilometer yang sedang di bangun. Sejauh mata menandang, hanya laut terhampar yang sangat indah, Samudera Indonesia. Sekali lagi, saya bertemu sekawanan monyet lucu.

Saya ada di titik 0 kilometer Indonesia, alhamdulillah. Tidak banyak yang bisa dilakukan di sana, hanya meliat pemandangan. Jika mau, kita bisa membuat sertfikat sebagai bukti kami telah sampai di Titik 0 kilometer seharga Rp 20 ribu/sertifikat.

image

Kami pun segera meninggalkan Titik 0 Kilometer, mengejar waktu untuk bisa menyeberang ke Banda Aceh dan menikmati teduhnya Kota Serambi Mekkah. Kami sempat mampir ke dua pantai yaitu Pantai Tepin Layeu dan Pantai Gapang. Cuaca saat itu sangat cerah sehingga birunya air laut terlihat begitu indah. Langit dan laut yang biru begitu sedap dipandang. MasyaAllaah.

image

Hari menjelang siang, kami bergegas kembali menggunakan kapal ferry karena cuaca buruk. Kabarnya, ombak yang harus ditaklukan setinggi 3 meter sehingga tidak memungkinkan jika menyeberang dengan kapal cepat. Saya agak kecewa karena harus naik ke kapal yang kotor lagi. Tapi apa boleh buat, perjalanan tetap harua dilanjutkan. Kapal kami pun bergoyang lebih kencang dibandingkan saat kami datang. Setibanya di pelabuhan Ulee Lheu, kami mendapat kabar bahwa kapal yang kami tumpangi adalah kapal ferry terakhir yang bisa menyeberang. Tidak boleh ada penyeberangan lagi karena ombak telah mencapai ketinggian 6 meter. Wow!

Well, petualangan ke Kota Sabang telah usai. Kami pun akan melanjutkan wisata kami di Banda Aceh. InsyaAllaah cerita akan dilanjutkan di lain kesempatan.

Telah aku tinggalkan masa lalu dalam jejak-jejak sepatu. Ku titipkan pada Sabang yang indah.

Dida, skoliofighter dengan kurva 30°.

Assalammualaikum wr.wb.

Hallo semuanya. Perkenalkan nama saya Oka Nurlaila. Lahir di Kota Khatulistiwa tahun 1994. Sekarang ini sedang kuliah di kampus swasta di Depok dan tengah menyelesaikan tugas akhir *mohon doanya ya*.

Cerita di artikel kali ini saya ingin berbagi kisah yang semoga menambah semangat teman-teman skoliosers.

Didiagnosa Skolisosis

Sekitar tahun 2006 saat sebentar lagi memasuki masa putih biru, saya dibawa oleh orangtua ke klinik tulang di Pontianak. Padahal saya merasa sehat dan baik-baik saja. Tapi Mama melihat ada yang aneh dengan punggung saya.

Ternyata hasil ronsen menunjukkan bahwa memang tulang belakang saya sudah bengkok 12 derajat dan didiagnosa skolisis. Saran dokter ketika itu hanyalah renang, gantung dan perbanyak konsumsi minuman berkalsium tinggi.

Duduk di bangku SMK, derajat skoliosis bertambah menjadi 30 derajat. Terkadang ada rasa nyeri yang menyakitkan seperti ditusuk dari belakang. Selain itu kaki juga sering keram dan ngilu.

Saat konsultasi kembali dengan dokter tulang (bukan dokter yang pertama), beliau menyarankan operasi atau pemasangan brace. Sedangkan untuk menghilangkan rasa nyeri dan nyilu, saya diberi obat pengurang rasa sakit. Setelah ditelusuri ternyata harga brace sungguh jauh dari jangkauan ekonomi keluarga. Sedangkan saya dan keluarga ingin memilih alternatif lain selain operasi.

Saya lupa kapan tepatnya waktu itu Ayah baru pulang dari Jakarta, ia membawa kotak cukup besar yang ternyata adalah alat terapi tulang yang iklannya sering bermuncul di televisi dan dapat digunakan di rumah. Alat terapi ini pun atas saran dokter tulang lainnya yang kebetulan anaknya juga mengalami skoliosis dan menggunakan alat terapi tersebut.

Sekarang sudah memasuki tahun ketiga saya merantau dan meninggalkan Pontianak. Terakhir kali cek, derajat tulang saya sudah 40. Sesak dan nyeri ditengah lelapnya tidur atau saat bangun tidur kerap terjadi. Rasa sakit yang tentu teman-teman skolioser bisa pahami. Badan rasanya seperti ditusuk-tusuk dan dada terasa berat juga nyilu.

Demi menghindari rasa sakit tersebut, saya terkadang renang juga stretching yang gerakannya saya dapatkan dari berbagai website. Biasanya saya stretching setiap mau tidur dan bangun tidur.

Skoliosis Bukan Penghalang Meraih Mimpi

Alhamdulillah, hampir selama sepuluh tahun bersama skoliosis saya dapat merasakan masa remaja yang bahagia. Teman-teman dan keluarga selalu mendukung juga mendoakan. Mama dan Ayah yang tak pernah membatasi saya untuk mencoba berbagai hal. Memberikan kesempatan untuk menggali potensi. Seperti, ikut OSIS, teater, PMR, Basket, Mading, English Club dan masih banyak lagi.

Dalam pencarian itulah saya menemukan apa yang sebenarnya saya sukai juga cintai. Yaitu dunia menulis. Sebenarnya sejak sekolah dasar kelas tiga, sudah terbiasa menulis diary. Memasuki masa putih abu-abu, baru menyadari bahwa saya bahagia ketika menulis dan ingin sukses dengan menulis.

Lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan di Pontianak, saya terbang ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan. Ternyata selama di tanah rantau, mimpi saya menjadi seorang penulis semakin besar dan spesifik. Yaitu menjadi Travel Writer. Seperti yang Bang Pay Sujarwo pernah sampaikan sewaktu acara bedah bukunya berjudul “SEPOK”.

Awal bermimpi menjadi “Penulis yang Keliling Dunia” adalah saat teringat Ayah yang pernah berprofesi sebagai wartawan. Melalui tulisan ia pernah berkunjung ke berbagai daerah juga negara. Kemudian mengenal Bang Pay Sujarwo lewat acara bedah bukunya sewaktu saya masih menjadi siswi SMK. Lalu memasuki bangku kuliah, muncul-lah nama Asma Nadia. Seorang Jilbab Travel Writer, novelist dan cerpenis yang telah mengunjungi banyak negara.

Karena itu saya pun ingin menjadi seperti mereka. Saya ingin tunjukan bahwa skolioser juga bisa keliling dunia. I am going to be the next Jilbab Travel Writer.

Mimpi yang Perlahan Terwujud

Mulai dari tahun 2013 saya berusaha keras mencoba peruntungan dengan mengikuti berbagai jenis lomba. Termasuk lomba yang berhadiah jalan-jalan gratis. Siapa sih yang tidak suka gratisan? Hehe. Seperti ASEAN Young Writer Award, International Essay Contest oleh GOI Peace Foundation, Sayembara Internasional Penulisan Artikel oleh PCMI Rusia, Finland-Foreign Correspondents’ Programme, berbagai lomba blog, dan lain-lain. Apakah semuanya berhasil menang? Ternyata masih belum menjadi rezeki saya.

Selain itu juga sering nulis di blog sejak masuk kuliah, kira-kira tahun 2012. Awal blogpost isinya hanya berkisah tentang suara hati. Kalau dibaca lagi rasanya, saya geli sendiri. Karena sadar ternyata tulisan-tulisan tersebut alay dan lebay sekali *tutup muka*. Kalau sekarang fokus nulisnya tentang traveling, wisata dan pengalaman pribadi. Silahkan bagi teman-teman yang mau mampir ke blog saya disini: beebalqis.blogspot.co.id

Di awal tahun 2015, saya mencoba mengikuti Blog Competition yang diadakan oleh sebuah Tour Travel Agent Jakarta yang berhadiah traveling gratis. Tahun-tahun sebelumnya saya juga pernah mengikuti Blog Competition yang diadakan oleh pihak yang sama. Tapi dua kali mencoba ternyata kalah.

Alhamdulillah akhirnya Blog Competition yang ketiga kalinya ini mebuahkan hasil. Saya terpilih sebagai juara ketiga dan berkesempatan traveling ke Beijing secara gratis selama 5D4N. Semua selama perjalanan ditanggung termasuk makan, penginapan, visa, tiket wisata, pesawat PP, transportasi juga uang saku.

Karena Travel Agent yang mengadakan lomba adalah Tour Travel Agent yang menyediakan produk wisata halal. Jadi Alhamdulillah sekali selama disana urusan makan dan shalat terjaga. Berhubung masih memasuki akhir musim dingin, suhu di China rata-rata 0 derajat celcius hingga minus delapan derajat celcius. Selain itu tantangan terbesar disana adalah toilet umumnya yang nggak menyediakan air. Alhasil harus siap sedia air dan tisu basah. 

Setelah tiga kali mencoba dan tiga tahun ikut lomba sana-sini. Akhirnya Allah memberikan saya kesempatan untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar negeri dengan keringat sendiri.

image

Impian dan Skoliosis

“Dreams are invented. We are not born with them. Impian-impian itu diciptakan atau diundang. Karena kita tidak lahir bersama mereka (impian).” (Buku Dream Catcher by Alanda Kariza)

Kalimat diatas menjadi salah satu kalimat motivasi yang akan selalu saya ingat. Semua manusia berhak dan mampu menciptakan mimpi. Termasuk saya yang seorang skolioser. Karena menjadi skolioser adalah bukti bahwa kita telah diciptakan secara istimewa oleh Tuhan.

Mimpi-mimpi yang diciptakan membuat saya merasa lebih kuat, bahagia dan memiliki harapan menjalani hari demi hari. Sehingga lebih fokus dengan masa depan, bukan muara kesedihan.

Karena fisik tak sempurna bukanlah faktor yang menjadi penghalang untuk merealisasikan impian menjadi kenyataan.

image

Oke sekian cerita saya kali ini. Semoga kita dapat saling menyemangati dan mengingatkan ya. Semoga kita dapat ketemu dikesempatan yang baik. Salam.

wpid-2014-03-30-10.33.31.jpg.jpeg

Bisakah seorang skolioser (khususnya dengan brace) melakukan kegiatan di luar ruangan atau outdoor activity? Jawabnya bisa saja. Skolioser tetap dapat melakukan berbagai kegiatan termasuk juga di alam bebas, tentunya dengan memerhatikan beberapa hal agar kegiatan tersebut berjalan lancar.

Berikut sedikit sharing pengalaman untuk skolioser yang mau melakukan kegiatan di luar-ruang atau outdoor activity yang dalam hal ini yaitu kemping alias berkemah, dengan atau tanpa brace.

image

 

Mari kemping!

(more…)

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.