Siapa bilang memiliki kurva di tulang punggung bikin kita gak bisa apa-apa? Jika ada yang berkata demikian, saya berani mematahkan teori tanpa dasar itu. Ada banyak scoliofighter yang tangguh di luar sana, mudah-mudahan saya salah satunya.

Saya Dida, bekerja di lembaga kemanusiaan yang bisa menangani bencana, konflik kemanusiaan, dan sejenisnya. Yup! Saya bekerja di Aksi Cepat Tanggap. Saya tinggal di Bekasi sementara tempat saya bekerja ada di Menara 165, TB Simatupang. Saya jalani perjalanan pulang-pergi setiap hari menggunakan commuter line (selanjutnya akan saya sebut kereta). Tidak kurang dari 2,5 jam lamanya perjalanan. Belum lagi menunggu kereta yang kadang terlambat sehingga membuat durasi berdiri juga semakin panjang. 

Pernah saya mencoba naik motor, namun kondisi Jakarta yang super macet membuat saya menyerah membelah Bekasi-Jakarta Selatan dengan kendaraan roda dua. Akhirnya, saya manfaatkan moda transportasi rakyat; kereta.

Scoliofighter with Pasukan Anker

Setiap pagi, saya naik kereta dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Manggarai dan sebaliknya. Perjalanan dari Stasiun Manggarai menuju Stasiun Tanjung Barat atau sebaliknya tidak terlalu menarik untuk saya ceritakan karena kondisi kereta cenderung sepi dan kondusif. Bagi yang belum tahu mengapa perjalanan ini begitu istimewa buat para penyandang skoliosis seperti saya, saya akan coba gambarkan semampunya agar tergambar keseruan kereta yang saya tumpangi setiap hari.

Kereta-Bekasi-Manggarai-Pagi-Hari itu memiliki ‘sensasi’ luar biasa. Seluruh penumpang akan memaksa masuk ke dalam gerbong hingga penuh sesak. Bahkan, ketika kita merasa kereta sudah tidak bisa menerima penumpang lagi, saat itu pula keajaiban terjadi. Calon penumpang yang kita duga tidak bisa masuk, tiba-tiba bisa berada di dalam gerbong, bergabung bersama penumpang lain sehingga seluruhnya seolah menjadi ikan pepes.

image

Tidak jauh berbeda dengan Kereta-Manggarai-Bekasi-Sore-Hari. Biasanya, gerbong sudah penuh oleh penumpang dari stasiun Jakarta Kota. Kalau pagi hari, penumpang akan mengisi ruang kosong sedikit demi sedikit. Kalau sore hari, penumpang lebih ganas karena berebutan masuk ke dalam gerbong. Pernah berada di tengah konser band legendaris yang harta tiketnya sangat terjangkau? Bagaimana jika gate dibuka dan penonton tidak membuat antrean? Mungkin seperti itu rasanya berada di dalam gerbong kereta-Bekasi-Manggarai-Pagi-Hari. Seru ya?

Saya sangat jarang mendapat duduk di dalam kereta. Kalaupun duduk, jumlahnya bisa dihitung jari. Hal yang membuat saya berjibaku adalah pegal saat berdiri lama. Para scoliofighter dengan kurva 30° seperti saya tentu terlihat layaknya manusia biasa.

Saya tidak perlu mendapat kursi prioritas ataupun keistimewaan lain di dalam kereta. Padahal, berdiri 1 jam lamanya itu sungguh menyiksa bagi saya. Saya belum sempat riset apakah ini terjadi pada semua scoliofighter atau hanya pada saya saja. Tetapi rasa sakitnya sungguh tidak nyaman. Ditambah dengan bucket handle knee saya yang sobek sehingga nyeri kalau menopang tubuh saya terlalu lama.

Siasat Perang Scoliofighter

Kondisi kereta yang superpadat membuat saya sebagai scoliofighter harus kreatif cari solusi. Sempat terpikir beberapa hal agar scoliofighter yang naik kereta merasa lebih nyaman.

1. Memiliki kursi lipat khusus yang digunakan secara bijak. Kursi ini hanya boleh dibuka dengan beberapa syarat seperti di belakang ruang masinis, sudut gerbong, atau ketika kereta berjalan (harus dilipat ketika kereta berhenti agar tidak mengganggu lalulintas penumpang). Dengan adanya kursi lipat khusus ini, kita bisa duduk kalau otot-otot punggung mulai kaku akibat berdiri sehingga gak perlu meringis lagi. Tentunya kursi lipat ini diberikan tanda khusus berupa barcode yang sudah discan di pintu masuk sehingga tidak sembarang kursi lipat yang bisa digunakan di dalam kereta.

2. Memiliki kartu kereta edisi Scoliofighter. Sebenarnya ini hanya untuk identitas bahwa kita adalah penyandang skoliosis yang sewaktu-waktu diperbolehkan meminjam tempat duduk penumpang sebentar, sekadar untuk meluruskan punggung. Kalaupun kami kuat berdiri hingga tujuan, kartu itu jadi simbol prestige bagi scoliofighter. Berasa member spesial PT KAI. Paling engga jadi keren gitu kartu keretanya. 

3. Stretching. Ini adalah hal lumrah yang harus dilakukan scoliofighter di manapun berada. Pinter-pinter cari space untuk melakukan gerakan ringan selama dalam perjalanan. Jangan malu terlihat aneh. Gerakannya mirip SKJ anak 90an. Bungkukkan badan ke depan, belakang, kiri, dan kanan diikuti gerakan tangan yang mengikuti arah badan. Mudah-mudahan otot-otot yang tegang menjadi rileks kembali dan scoliofighter siap berjuang sampai tujuan. 

Saya tidak pernah merasa skoliosis membatasi ruang gerak para scoliofighter. C’Mistry ataupun S’oulmate yang nemenin kita setiap hari itu bukan momok menakutkan.

Kita cuma perlu strategi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Menyadari kita spesial itu penting, penting untuk dipikirkan agar tidak kalah langkah dengan yang lain. Walau punggung sulit menahan, commuter line tetap idaman. We are bent but not broken.

Selamat menjalankan aktivitasmu, hobimu, sekolahmu, dan apa saja yang ingin dilakukan. Tetap bermimpi. Karena dengan mimpi, kita hidup. We are bent but not broken!

Foto: admin